DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 



Berdasarkan aset yang dimiliki sekolah, maka pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sangat memegang peranan penting dalam pemetaan sumber daya yang ada di daerah dan sekolah dengan menggunakan tujuh aset/sumber daya. Berdasarkan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset (PKBA) menekankan pada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan lebih berkelanjutan.

Setelah saya melakukan pemetaan aset sekolah yang merupaka aset daerah. Saya mengidentifikasi ada 7 aset utama sekolah yang menjadi potensi kekuatan aset sekolah saya yang harus diberdayakan sesuai tupoksinya masing-masing.

 

Modal sumber daya manusia meliputi: Kepala sekolah dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga pendidik berjumlah 13 orang dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga perpustakaan 1 orang dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga administrasi 1 orang dengan kualifikasi pendidikan SMA, penjaga 1 orang dengan kualifikasi pendidikan SMA, murid sejumlah 66, pengawas sekolah dengan kualifikasi pendidikan S2, komite sekolah dan orang tua murid.

 

Modal sosial meliputi : kesepakatan kelas, tata tertib sekolah, kode etik guru, pembiasaan amal jumat, Organisasi pramuka, akses internet (wifi), komunitas praktisi, KKG, dan PKG

Modal fisik meliputi: ruang kepala sekolah, ruang kelas berjumlah 4, ruang UKS, perpustakaan, ruang laboratorium, kamar mandi siswa berjumlah 4, kamar mandi guru, lapangan upacara, mushola, parkir siswa dan guru, prasarana (drainase, air bersih, tempat cuci tangan berjumlah komputer, LCD.

 

Modal lingkungan meliputi: lahan yang masih luas, udaranya yang masih bersih dan lingkungan yang nyaman

 

Modal finansial meliputi : Dana BOS, BOSKAB dan BOSDA, dan Komite.

 

Modal politik meliputi inas Pendidikan Kab. Malang, Kantor Kepala Desa, Puskesmas, Polsek, Koramil.

 

Modal agama dan budaya meliputi : Suku Jawa, Agama Islam dan Non Muslim, kegiatan keagamaan


Ketujuh aset sekolah di atas merupakan sebuah potensi yang kami miliki dan kuasai. Dalam pembelajaran di sekolah kami selalu memberdayakan ketujuh aset dengan maksimal dan efektif untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.

Yang paling kami banggakan dari sekolah kami adalah prestasi-prestasi yang diraih oleh siswa-siswa SMP Dharma Wanita 09 Kromengan. Kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam membangun anak yang berprestasi.

Adapun keunikan dari sekolah kami adalah karena sekolah kami terletak di lingkungan pedesaan tepatnya di tengah-tengah kecamatan dan untuk lokasi enak dicari.

Kekuatan lain dari aset sekolah kami adalah kerjasama dan kekompakan untuk selalu memajukan dan membenahi lingkungan SMP Dharma Wanita 09 Kromengan lewat komunitas praktisi sekolah.

Usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah agar lebih baik dari sekolah lainnya adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan komite sekolah, masyarakat, wali murid, dan instansi setempat dalam memajukan SMP Dharma Wanita 09 Kromengan.

 

 

 

SALAM GURU PENGGERAK


Share:

Tugas Modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi

Haii ... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana. Pada kesempatan kali ini ijinkan saya berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat saya bagikan yaitu tugas modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Tak terasa perjalanan guru penggerak angkatan 2 ini sudah sampai pada modul 3.1 yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sudah begitu banyak materi dan ilmu-ilmu baru yang dipelajari mulai dari modul 1.1 sampai 3.1 ini. Tentunya semua ilmu-ilmu yang sudah didapat tersebut akan sangat berguna dan bermanfaat untuk mewujudkan merdeka belajar.

Di awal modul 1.1 kita sudah mempelajari filosofi pendidikan yang disampaikan oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Di dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin (guru) harus menerapkan sistem among (menuntun) agar mampu mendorong tumbuh kembangnya potensi siswa. 

Selain itu, seorang pemimpin (guru) harus selalu berpedoman pada Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kaitannya dengan pengambilan keputusan, seorang pemimpin (guru) harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, arif, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (siswa), seorang pemimpin (guru) harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (siswa), dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.  

Di dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin (guru) harus selalu menyelaraskan dengan visi dan misi yang telah disusun dan disepakati bersama, agar apa yang diputuskan jelas dan terarah. Utamanya dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid sehingga terwujud merdeka belajar.

 

Bapak/Ibu guru di seluruh nusantara, 

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Anda diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain? 

Dalam pengambilan sebuah keputusan akan ada dua hal yang kita temukan yaitu bujukan moral dan dilema etika. Nah apakah perbedaan keduanya itu?

  • Bujukan moral atau benar vs salah adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan.
  • Dilema etika atau benar vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. 

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini.

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Dalam pengambilan sebuah keputusan ada tiga prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut yaitu. 

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

 

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
  5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
  6. Melakukan Prinsip Resolusi.
  7. Investigasi Opsi Trilema.
  8. Buat Keputusan.
  9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. 

Selain menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, kita juga  bisa menerapkan teknik coaching di dalam pengambilan keputusan. Melalui teknik coaching ini kita dapat memunculkan potensi-potensi yang kita miliki untuk dapat menyelesaikan situasi dilema etika yang kita alami. 

 

Demikianlah tugas modul 3.1.a.8 tentang koneksi antar materi modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat.

 

 

SALAM GURU PENGGERAK

Share:

3.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Haii ... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana ini. Pada kesempatan kali ini ijinkan admin berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat admin bagikan yaitu refleksi terbimbing saya dari mempelajari modul 3.1 materi Pengambilan keputusan sebagai pemimpin Pembelajaran.

 

Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini:

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis”.

Jawaban : Pendidikan secara umum bertujuan membantu manusia menemukan akan hakikat kemanusiaannya. Maksudnya, pendidikan harus mampu mewujudkan manusia seutuhnya. Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap manusia untuk mampu mengenal, mengerti, dan memahami realitas kehidupan yang ada di sekelilingnya hingga dapat berperilaku sesuai realitas kehidupan. Dengan adanya pendidikan, diharapkan manusia mampu menyadari potensi yang ia miliki. Potensi yang dimiliki contohnya SQ (Spiritual Quotient atau Kecerdasan Spiritual) agar setiap tindakannya dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. EQ (Emotional Quotient atau Kecerdasan Emosi) agar manusia mampu mengendalikan emosinya, memahami perasaan orang lain. IQ (Intelligence Quotient atau Kecerdasan Inteligensi) agar manusia memiliki kemampuan berhitung, kemampuan verbal, kemampuan membedakan, dan membuat prioritas. SocQ (Social Quotient atau Kecerdasan Sosial) agar manusia senang berkomunikasi, berteman, menolong, membuat orang lain bahagia, dan bekerja sama.

 

JUDUL REFLEKSI

DILEMA ADALAH BUMBU KEHIDUPAN

 

Dari tujuh buah soal, saya memutuskan untuk memilih empat soal berikut ini pada sesi refleksi.

 

Soal 1:

Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Jawaban:

Pemahaman saya tentang dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup yang disebut sebagai paradigma dalam pengambilan keputusan. Secara umum paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika ada 4 seperti di bawah ini:

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

 

Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.

 

Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan :

Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

Pengujian paradigma benar lawan benar

Melakukan prinsip resolusi

Investigasi opsi trilema

Buat keputusan

Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah keputusan tersebut diambil dari sudut pandang siapa akan berbeda dalam setiap kasusnya.

 

Soal 2:

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 

Jawaban: sebelum mempelajari modul ini seringkali saya sebagai guru mengalami dilema terhadap berbagai situasi sulit di sekolah. Saya sudah mengambil keputusan yang kiranya efektif dan baik bagi saya selaku orang yang mengalami dilema dan baik bagi orang lain yang terkait dengan situasi yang saya alami. Namun dengan mempelajari modul ini saya menjadi tahu  bahwa terdapat Sembilan langkah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengujian dan pengambilan keputusan yang harus saya pikirkan matang-matang dan temukan jawabannya dari situasi saya.

 

Soal 3:

Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Jawaban:

Sebelumnya saya kurang memperhitungkan paradigma apa yang terjadi dalam dilema saya setelah saya belajar modul, dampaknya saya menyadari apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi saya, bahwa ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting bagi saya. Perubahan yang terjadi pada cara saya mengambil keputusan adalah mengenali terlebih dahulu apa masalahnya?, masalah siapa ini? Paradigma apa yang terjadi dalam situasi ini?. sebelum mengambil keputusan saya berpikir menggunakan tiga prinsip pengambilan keputusan, dan Sembilan langkah pengambilan keputusan.

 

Soal 4 :

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

 

Jawaban:

Saya sebagai guru, merupakan pemimpin pembelajaran bagi murid dan  bagian dari stakeholder di sekolah. Akan banyak situasi disekolah yang akan terselesaikan dengan efektif setelah mengetahui dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga tempat saya menjalankan tugas keprofesian saya.

 


SALAM GURU PENGGERAK

Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js