Budaya Positif

Aksi Nyata Modul 1.4 (Budaya Positif)

 

Mengembangkan Budaya Positif dengan bersahabat dengan sampah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.   Latar belakang

Sejatinya setiap individu pasti mengharapkan hidup dengan nyaman di lingkungan yang bersih dan asri, agar tempat tinggal sehari-hari dapat menciptakan udara yang sehat bagi kebutuhan tubuh kita. Namun kondisi alam dan kebutuhan serta telah pudarnya rasa keperdulian masyarakat akan hal itu, nampaknya akan terasa sulit di capai pada zaman sekarang. Salah satu yang kini menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat terkait kenyamanan lingkungan hidup adalah sampah, baik sampah hasil rumah tangga maupun sampah pada umumnya. Karena sampah merupakan hal yang pasti dihasilkan oleh makhluk hidup di dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan pola hidup sehat dan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan dari sejak dini. Budaya inilah yang harus dibina dari kecil untuk kelestarian lingkungan. Pada zaman sekarang banyak pelajar yang kurang peduli dengan keberadaan sampah dari dampak negatif yang ditimbulkan. Banyak sekali kita lihat banyak lokasi pembuangan sampah bukan pada tempatnya. Jika kita amati penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang berguna melalui proses daur ulang. Kita terkunci pada pemahaman sampah harus dibuang atau dijauhkan dari tempat kita tanpa berfikir akan menjadi masalah baru ditempat yang lain (pembuangan).

Oleh karena itu perlunya pemahaman siswa mengenai sampah dan dampak yang ditimbulkan. Selain itu kita berusaha memunculkan pemikiran yang positif dari siswa bagaimana menanggulangi masalah sampah dari pemilahan sampah organik dan sampah anorganik serta pemanfaatan sampah menjadi bermanfaat. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga akan timbul kebiasaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan menjadikan sampah  bernilai ekonomis tinggi  


B.   Tujuan

  1. Menumbuhkan rasa cinta dan peduli siswa pada lingkungan
  2. Menumbuhkan pengetahuan siswa mengenai sampah (dampak dan manfaatnya)
  3. Mengembangkan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan sampah agar dapat bernilai
  4. Mampu menjadi penggerak dalam melestarikan lingkungan
  5. Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat dan teratur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah

C.   Tolak Ukur

  1. Siswa dapat memilah milah sampah dirumah tangga dan mengolah/ mendaur ulang sampah yang dihasilkan
  2. Siswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan sadar dan berkelanjutan

D.   Linimasa tindakan yang dilakukan

Adapun tahap yang dilakukan:

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfaatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku)
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa merumuskan apa yang mereka lakukan dalam mengatasi sampah dan pengolahannya dilingkungan tempat tinggal mereka
  4. Siswa mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga

E.   Hasil Linimasa tindakan yang dilakukan

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah melalui aplikasi Quizziz dilink https://quizizz.com/admin/quiz/60d9b603e2b131001b4ac452/pengertian-sampah-dan-jenisnya
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku) Buku tentang sampah https://drive.google.com/file/d/1ICqjR1nlEYRkIpXx6YU5oeQxcqZ1WEef/view?usp=sharing
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa melalui pembelajaran siswa membuat sebuah kerajinan dalam mengatasi sampah dan mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga.

-      Beberapa hasil kerajinan siswa dari sampah :





 

-  Video tentang memilah sampah rumah tangga di Bank Sampah Desa Kromengan

https://www.youtube.com/watch?v=ChvXWBgzxqI 


F.   Kendala yang dihadapi selama melaksanakan Aksi Nyata

Partisipasi siswa hanya 80% dalam proses pembelajaran dikarenakan jaringan internet yang kurang bagus dan motivasi belajar siswa kurang baik. Partisipasi siswa dalam membuat tugas 65% dikarenakan kurang kontrol orang tua, semangat siswa masih rendah dan pengontrolan guru yang tidak maksimal karena dilakukan hanya melalui HP. Belum dapat mengukur langsung kemampuan siswa sejauh mana kepedulian siswa terhadap sampah

 

G.   Saran

Untuk hasil maksimal pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan membuat sebuah kegiatan outclass dengan mengunjungi bank sampah yang ada di Desa Kromengan.


Share:

Rancangan Aksi Nyata Modul 1.4 (Budaya Positif)


Mengembangkan Budaya Positif dengan bersahabat dengan sampah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.   Latar belakang

Sejatinya setiap individu pasti mengharapkan hidup dengan nyaman di lingkungan yang bersih dan asri, agar tempat tinggal sehari-hari dapat menciptakan udara yang sehat bagi kebutuhan tubuh kita. Namun kondisi alam dan kebutuhan serta telah pudarnya rasa keperdulian masyarakat akan hal itu, nampaknya akan terasa sulit di capai pada zaman sekarang. Salah satu yang kini menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat terkait kenyamanan lingkungan hidup adalah sampah, baik sampah hasil rumah tangga maupun sampah pada umumnya. Karena sampah merupakan hal yang pasti dihasilkan oleh makhluk hidup di dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan pola hidup sehat dan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan dari sejak dini. Budaya inilah yang harus dibina dari kecil untuk kelestarian lingkungan. Pada zaman sekarang banyak pelajar yang kurang peduli dengan keberadaan sampah dari dampak negatif yang ditimbulkan. Banyak sekali kita lihat banyak lokasi pembuangan sampah bukan pada tempatnya. Jika kita amati penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang berguna melalui proses daur ulang. Kita terkunci pada pemahaman sampah harus dibuang atau dijauhkan dari tempat kita tanpa berfikir akan menjadi masalah baru ditempat yang lain (pembuangan).

Oleh karena itu perlunya pemahaman siswa mengenai sampah dan dampak yang ditimbulkan. Selain itu kita berusaha memunculkan pemikiran yang positif dari siswa bagaimana menanggulangi masalah sampah dari pemilahan sampah organik dan sampah anorganik serta pemanfaatan sampah menjadi bermanfaat. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga akan timbul kebiasaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan menjadikan sampah  bernilai ekonomis tinggi 

 

B.   Tujuan

  1. Menumbuhkan rasa cinta dan peduli siswa pada lingkungan
  2. Menumbuhkan pengetahuan siswa mengenai sampah (dampak dan manfaatnya)
  3. Mengembangkan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan sampah agar dapat bernilai
  4. Mampu menjadi penggerak dalam melestarikan lingkungan
  5. Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat dan teratur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah

 

C.   Tolak Ukur

  1. Siswa dapat memilah milah sampah dirumah tangga dan mengolah/mendaur ulang sampah yang dihasilkan
  2. Siswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan sadar dan berkelanjutan

 

D.   Linimasa tindakan yang dilakukan

Adapun tahap yang dilakukan:

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfaatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku)
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa merumuskan apa yang mereka lakukan dalam mengatasi sampah dan pengolahannya dilingkungan tempat tinggal mereka
  4. Siswa mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga

 

E.   Dukungan yang dibutuhkan

  1. Kontribusi orang tua di rumah dalam membimbing anak agar peduli lingkungan
  2. Kontribusi warga sekolah untuk memberikan contoh yang baik kepada siswa tentang penanggulangan sampah. 
  3. Kerjasama yang baik antara rekan kerja/peserta didik/karyawan/kepsek dan orang tua
Cara mendapatkannya adalah berkolaborasi dan membangun komitmen untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

  

Buku Tentang Sampah 

Share:

Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

 

1.4.a.9. Koneksi Antar Materi - Pentingnya Budaya Positif

Peta Konsep Koneksi Antar Materi pada Modul 1

 

Sintesis berbagai materi

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Besarnya pengaruh Pendidikan dalam masa depan anak tidak bisa disangsikan lagi. Diperlukan pondasi yang kuat demi terwujudnya karakter yang baik sehingga membawa dampak baik pula bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) yang berkaitan dengan filosofi Pendidikan yang harus dijadikan pedoman di antaranya kodrat anak, kodrat zaman, dan budi pekerti. Kodrat Anak : Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar dapat memperbaiki laku hidupnya dan tumbuh kekuatan kodrat anak. Kodrat Zaman : Melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Budi Pekerti : Watak merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.


Apakah budaya positif di sekolah berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik?

Tidak, Budaya sekolah akan terwujud manakala terdapat kolabarosai antara pemangku kepentingan di sekolah, baik siswa, rekan sejawat, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua murid maupun masyarakat agar dapat menciptakan budaya ajar yang baik menuju murid merdeka.

 


Bagaimana penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari?

Penerapan budaya positif tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi memerlukan proses dan waktu. Budaya Positif dilakukan dengan menerapkan disiplin positif secara terus-menerus dan konsisten, sehingga menjadi sebuah karakter atau nilai-nilai yang tumbuh sebagai motivasi intrinsik.

Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktikkan disiplin positif di rumah.

Berikut peran dan tanggung jawab berbagai struktur sekolah meliputi:

Guru

Memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik. Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif

Kepala sekolah

Memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah. Mendukung dan mengawasi keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif

Orang Tua

Menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten. Berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif.


Bagian mana dari modul sebelumnya yang berkaitan dan mendukung budaya positif?

Pada Modul 1.1 Mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Pendidik pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Semboyan Pendidikan menurut Ki hajar Dewantara adalah "Ing ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo mangun karso, Tut wuri handayani.

Pada Modul 1.2 Mengenai Peran dan Nilai Guru Penggerak.

Demi terwujudnya pemikiran KHD diperlukan seorang guru yang memiliki nilai Mandiri, Kolaboratif, Reflektif, Inovatif, dan Berpihak pada Murid. Nilai-nilai tersebut bertujuan untuk menjadi bekal dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, bermakna, dan lahirnya murid dengan profil pelajar Pancasila. Contoh konkret dalam penerapan nilai-nilai tersebut adalah :

- MANDIRI

Melaksanakan tanggungjawab sebagai pendidik dengan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki.

- KOLABORASI

Menerapkan model pembelajaran kolaboratif saat pembelajaran sehingga terbangun kecerdasan dalam berkomunikasi antarsesama.

- REFLEKTIF

Selalu mengadakan refleksi di setiap akhir pembelajaran.

- INOVATIF

Menyajikan suatu tantangan dan batasan dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik akan berusaha mencari solusi alternatif.

- BERPIHAK PADA MURID

Memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mengenali karakter murid lebih awal sebelum kegiatan pembelajaran, guru menjadi fasilitator dan mediator.

Dengan berbekal nilai tersebut, maka seorang guru bisa mewujudkan harapan Pendidikan seperti yang tercantum di atas, yaitu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Pada Modul 1.3 Mengenai Visi Guru Penggerak

Paradigma mengaplikasikan Inquiry Apresiatif melalui tahapan BAGJA.

Pembelajaran yang menyenangkan, saling menghargai, toleransi, bahagia dan nyaman, diskusi kelas, refleksi diri, motivasi instrinsik, menggali kekuatan, keterbukaan, apersepsi yang menyenangkan, semangat, berfikir positif, berkolaborasi, mendengarkan pendapat siswa, disiplin, tidak monoton, suasana kelas hidup, menggali potensi yang maksimal.

 

Bagaimana peran guru penggerak menularkan kebiasaan baik kepada guru lain alam membangun budaya positif di sekolah?

Cara yang efektif untuk mengajak guru tersebut dalam menerapkan Budaya Positif di kelas maupun di sekolah adalah...

Saya akan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan di sekolah (Kepala Sekolah), untuk berbagi informasi yang saya dapatkan selama mengikuti Pendidikan Calon Guru Penggerak, terutama dalam penerapan Budaya Positif di kelas. Media yang digunakan untuk berbagi informasi bisa dilakukan dengan menggunakan waktu kultum guru yang dilakukan sebelum pembelajaran baik secara online maupun offline.

 

Bagaimana guru penggerak bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah?

Setiap sekolah tentunya sudah memiliki visi dan misi masing-masing. Sebagai guru penggerak juga dituntut untuk memiliki visi dan misi yang sejalan dengan visi dan misi sekolah. Budaya sekolah di tiap-tiap sekolah merupakan implementasi dari visi dan misi sekolah. Guru penggerak bersama dengan murid membuat kesepakatan kelas untuk menumbuhkan budaya positif. Kesepakatan kelas yang berhasil menumbuhkan budaya positif di kelasnya, kemudian juga menularkan kepada rekan sejawat, dilakukan secara konsisten untuk jangka waktu yang tidak terbatas, sehingga muncul nilai-nilai karakter sebagai penerapan budaya positif di sekolah. Keberhasilan penerapan budaya positif di tingkat kelas dan pengimbasan ke rekan sejawat, secara lebih luas, bisa ditumbuhkan menjadi visi sekolah.

Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari. Tujuan akhir dari disiplin adalah agar murid dapat memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri serta menghargai orang lain.

Disiplin sebaiknya merupakan hal-hal berikut ini, yaitu :

  1. Fokus dalam mengoreksi dan mendidik
  2. Mendorong tanggung jawab dan disiplin diri
  3. Jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar maupun pendidik

Disiplin positif bukanlah :

  1. Membiarkan peserta didik melakukan apa pun yang mereka inginkan
  2. Tentang tidak memiliki aturan, batasan atau harapan
  3. Tentang reaksi jangka pendek
  4.  Hukuman alternatif untuk menampar, memukul atau mempermalukan. 

Disiplin positif bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembuatan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas terutama pada saat awal semester baru, saat ada murid yang melakukan hal yang tidak sesuai kesepakatan, sebelum menjalankan aktivitas baru, serta ketika awal masuk sekolah setelah libur panjang. Adapun panduan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah sebagai berikut : 

  1. Tanya pendapat murid (Murid akan merasa dibutuhkan dan dianggap ketika guru melibatkan mereka dari awal kegiatan).
  2. Tanyakan ide dari murid untuk mencapai kelas impian (Murid akan merasa dilibatkan dalam mengatur kelas. Ini lebih efektif daripada menyampaikan hal apa saja yang dilarang atau tidak boleh dilakukan).
  3. Ambil kesimpulan dari ide murid (Perjelas kesepakatan kelas melalui kegiatan diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari murid).
  4. Ubah ide menjadi kesepakatan kelas (Buatlah poster yang berisikan kesepakatan kelas yang disetujui di akhir kegiatan diskusi. Hindari penggunaan kata jangan dan dilarang. Sebaiknya menggunakan kata yang positif sebagai panduan tingkah laku).
  5. Tanda tangani kontrak kesepakatan kelas (Guru bersama murid menandatangani poster yang dibuat. Untuk murid PAUD bisa menggunakan cap tangan).
  6. Lihat bersama poster kontrak kesepakatan (Lakukan refleksi secara rutin terkait kontrak kesepakatan kelas yang sudah disusun. Tanyakan pada murid terkait perkembangan atau apa perlu direvisi. Apabila ada yang melanggar kesepakatan baik guru maupun murid diperlukan tindakan berupa disiplin positif). 

Catatan : Kesepakatan kelas tidak perlu terlalu banyak sehingga mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan.

Semoga dengan membuat kesepakatan kelas dapat mewujudkan budaya postif di sekolah serta dapat meningkatkan hubungan antara guru dan murid. Hubungan guru dan murid adalah faktor penting dalam membangun budaya sekolah yang baik.

Budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik diperlukan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Penerapan budaya positif sangat diperlukan dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Ada nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai moral, nilai sosial, peningkatan kepercayaan diri, saling menghargai dan bertoleransi. Semua nilai tersebut sangat berkaitan dalam penerapan budaya positif di sekolah. Demi mewujudkan budaya positif di sekolah diperlukan landasan pemikiran KHD tentang Pendidikan dan pengajaran, kodrat anak dan kodrat zaman, budi pekerti, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak melalui pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Semua itu saling mendukung satu sama lainnya. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah melalui role model maupun keteladanan. Menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah dapat dilakukan dengan langkah kecil dari sebuah kelas melalui kesepakatan kelas kemudian diimbaskan ke dalam satu tingkatan kelas dilanjutkan pengimbasan ke semua tingkatan kelas sehingga menjadi budaya positif sekolah. 

Demikian koneksi antar materi dalam modul 1 baik refleksi pemikiran KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak maupun pengantar budaya positif. Kurang lebihnya mohon maaf. Mohon perkenan bapak/ibu untuk meninggalkan komentar demi perbaikan menulis artikel ke depannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

 

 

 SALAM GURU PENGGERAK

Share:

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MENERAPKAN BUDAYA POSITIF

 

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

MENERAPKAN BUDAYA POSITIF

 

Berikut langkah-langkah yang penulis lakukan dalam menyusun kesepakatan kelas

Adapun yang melatarbelakangi pembuatan kesepakatan kelas ini yaitu adanya kekosongan kegiatan siswa setelah selesai melaksanakan pembagian raport akhir tahun. Penulis pun berinisiatif untuk mengajak siswa berdiskusi terkait kegiatan apa yang mau mereka lakukan untuk mengisi waktu luang tersebut.

Diawali dengan mengirimkan pesan kepada siswa melalui grup whatsapp untuk menanyakan melakukan kegiatan apa untuk mengisi waktu luang sebelum memasuki tahun pelajaran baru. Kemudian anak-anak menuliskan usulan mereka melalui google form. Setelah anak-anak menyampaikan usulan mereka pada google form, penulis mulai merekap kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh siswa. Kami pun akhirnya menyimpulkan bersama bahwa kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuat sebuah kesimpulan tentang kemampuan koneksi internet di masing-masing lokasi peserta didik. 

Tindakan yang dilakukan oleh guru

Setelah bentuk kegiatannya pasti, hal selanjutnya yang perlu disepakati yaitu terkait pelaksanaan kegiatannya, apakah secara individu atau kelompok? Waktu pelaksanaan kegiatannya sampai nanti masuk tahun pelajaran baru.

Percakapan Guru terhadap murid dalam kesepakatan kelas

Berikut bunyi kesepakatannya :

Pertama, Kegiatan yang dilakukan yaitu membuat sebuah kesimpulan tentang kemampuan koneksi internet di masing-masing lokasi peserta didikKedua, Kegiatan dapat dilakukan secara individu atau kelompok dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ketiga, Bukti kegiatan dikumpulkan dalam bentuk foto. Keempat, Pengumpulan hasil kegiatan kelas dikumpulkan saat memasuki tahun pelajaran baru.

Respon Murid dalam kesepakatan kelas

Selanjutnya kesepakatan kelas dibuat dalam bentuk poster dan ditandatangani oleh siswa serta guru. Poster dibagikan kepada siswa melalui grup whatsapp untuk disimpan.

Tantangan

Tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan kesepakatan ini yaitu masih adanya siswa yang acuh terhadap hasil kesepakatan yang telah dibuat. Karena guru tidak mengetahui apakah siswa tersebut sudah melaksanakan kegiatan atau belum. Guru pun terus mengingatkan mereka yang belum melaksanakan hasil kesepakatan kelas melalui grup whatsapp.


Dokumentasi proses penyusunan kesepakatan kelas

 


Pengiriman link google form

 

 

Kesepakatan berhasil dibuat dan disepakati secara bersama-sama 

Share:

AKSI NYATA 1.3.a.10.

Menciptakan Karakter Peduli Lingkungan Pada Program Pengelolaan Sampah Sekolah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.       Latar belakang

Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan manusia yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai] dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan. Alam tidak mengenal sampah, yang ada hanyalah daur materi dan energi. Hanya manusia yang menyampah mengakibatkan munculnya sampah.

Segala macam organisme yang ada di alam ini selalu menghasilkan bahan buangan, karena tidak ada proses konversi yang memiliki efisiensi 100%. Sebagian besar bahan buangan yang dihasilkan oleh organisme yang ada di alam ini bersifat organik memiliki ikatan CHO, bagian tubuh makhluk hidup. Sampah yang berasal dari aktivitas manusia yang dapat bersifat organik maupun anorganik. Contoh sampah organik adalah: sisa-sisa bahan makanan, kertas, kayu dan bambu. Sedangkan sampah anorganik hasil dari proses pabrik misalnya: plastik, logam, gelas, dan karet.

Ditinjau dari kepentingan kelestarian lingkungan, sampah yang bersifat organik tidak begitu bermasalah karena dengan mudah dapat dirombak oleh mikrobia menjadi bahan yang mudah menyatu kembali dengan alam. Sebaliknya sampah anorganik sukar terombak dan menjadi bahan pencemar.

Timbunan sampah menjadi sarang bagi vektor dan penyakit. Tikus, lalat, nyamuk akan berkembang biak dengan pesat. Ruang yang ada dicelah-celah sampah dapat berupa ban, kaleng bekas, kardus, dan lain-lain merupakan hunian yang ideal bagi tikus. Lalat pada umumnya berkembangbiak pada sampah organik, terutama pada sampah yang banyak mengandung protein, seperti sisa makanan.  Suasana yang lembab dan hangat sangat cocok untuk habitat nyamuk. Sampah organik menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi mereka.

 

Karakteristik sampah di Sekolah

Sekolah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang dapat menjadi penghasil sampah terbesar selain pasar, rumah tangga, industri dan perkantoran. Secara umum sampah dapat dipisahkan menjadi : Sampah organik/mudah busuk  berasal dari: sisa makanan, sisa sayuran dan kulit buah-buahan, sisa ikan dan daging, sampah kebun (rumput, daun dan ranting). Sampah anorganik/tidak mudah busuk berupa : kertas, kayu, kain, kaca, logam, plastik , karet dan tanah. Sampah yang dihasilkan sekolah kebanyakan adalah jenis sampah kering dan hanya sedikit sampah basah. Sampah kering yang dihasilkan kebanyakan berupa kertas, plastik dan sedikit logam. Sedangkan sampah basah berasal dari guguran daun pohon, sisa makanan dan daun pisang pembungkus makanan.

 

B.       Deskripsi Aksi Nyata Yang Dilakukan

Di lingkungan sekolah, pengelolaan sampah membutuhkan perhatian serius. Dengan komposisi sebagian besar penghuninya adalah anak-anak (warga belajar) tidak menutup kemungkinan pengelolaannya pun belum optimal. Namun juga bisa dipakai sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswinya. Salah satu parameter sekolah yang baik adalah berwawasan lingkungan.

Dari penjabaran diatas saya mempunyai visi ingin mengembangkan karakter peserta didik dalam mengolah sampah menjadi barang yang bernilai. Yang pertama saya menyampaikan visi kepada Kepala Sekolah. Dalam hal ini juga melibatkan pemangku kepentingan seperti guru, staf dan juga warga sekitar. Dalam pengelolaan sampah di sekolah, para peserta didik dilibatkan secara aktif. Hal ini dapat dilakukan dengan pembentukan regu-regu yang bertugas secara terjadwal. Kegiatan pameran dan kompetisi berkala dapat dilakukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah juga bisa melalui 4R (REDUCE, REUSE, REPLACE, RECYCLE). Sehingga muncul kesadaran baru bahwa “Sampah bukan masalah, tetapi peluang.

Adapun alasan mengapa saya mengambil aksi ini adalah mendorong timbulnya kesadaran dalam pengelolaan sampah demi menjaga kelestarian lingkungan sekolah dan warga sekitar.

 

C.       Hasil dari aksi nyata yang dilakukan

Dengan pelaksanaan program pengelolaan sampah masing-masing pemangku kepentingan sangat mendorong demi terciptanya lingkungan bersih. Peserta didik juga memberikan keaktifan yang ditunjukkan dengan pengelolaan sampah sesuai dengan karakter yang ada. Komunikasi dan kolaboratif antar pemangku kepentingan dan peserta didik dilakukan untuk memantau dan menuntun dalam pengelolaan sampah. Guru telah mengimplementasikan visi guru penggerak diantaranya kreatif dan inovatif, menuntun kemandirian peserta didik, membangun komunitas aktif sesama guru untuk berbagi praktik baik.

 

D.       Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)

Keberhasilan yang dilakukan dengan tindakan memberikan peran masing-masing peserta didik dalam pengelolahan sampah memberikan dampak positif. Murid yang selama ini membuang sampah tidak sesuai dengan 4R (REDUCE, REUSE, REPLACE, RECYCLE) akhirnya bisa berperan aktif dalam pengelolahan sampah. Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih dalam menggunakan sampah bekas menjadi barang bernilai yang menarik dan bisa berkreasi. Peserta didik juga saling berbagi dalam mengolah sampah menjadi barang bernilai dari temannya yang lain. Kegagalan dalam aksi nyata ini karena perilaku menjaga kebersihan masih sangat kurang, sehingga perlu waktu untuk memberi pemahaman pengelolaan sampah yang diberikan kepada peserta didik.

 

E.        Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Kedepan maka saya akan lebih intens lagi melakukan komunikasi terhadap peserta didik mengenai pengelolaan sampah yang mereka lakukan. Saya juga akan melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan agar pengelolaan samah lebih maksimal. Dan juga memberikan masukan-masukan kepada peserta didik tentang pendaurulangan sampah yang lebih mempunyai nilai guna.

Saya juga akan menjadikan diri saya sebagai dalam kedisiplinan, kemandirian dalam belajar dan kerja keras, memiliki integritas yang baik. Saya juga akan membangun komunikasi yang aktif untuk berbagi praktik baik dengan sesama guru dan pimpinan sekolah. Saya juga membangun komunikasi aktif dengan warga sekitar agar menghasilkan kolaborasi baik  dalam memberikan pemahaman tentang pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan nilai guna.

 

 

SALAM GURU PENGGERAK

 

MERDEKA BELAJAR


Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js