Rancangan Aksi Nyata, Aksi Nyata dan Refleksi aksi Nyata Modul 3.3.a.10





Share:

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 



Berdasarkan aset yang dimiliki sekolah, maka pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sangat memegang peranan penting dalam pemetaan sumber daya yang ada di daerah dan sekolah dengan menggunakan tujuh aset/sumber daya. Berdasarkan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset (PKBA) menekankan pada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan lebih berkelanjutan.

Setelah saya melakukan pemetaan aset sekolah yang merupaka aset daerah. Saya mengidentifikasi ada 7 aset utama sekolah yang menjadi potensi kekuatan aset sekolah saya yang harus diberdayakan sesuai tupoksinya masing-masing.

 

Modal sumber daya manusia meliputi: Kepala sekolah dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga pendidik berjumlah 13 orang dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga perpustakaan 1 orang dengan kualifikasi pendidikan S1, tenaga administrasi 1 orang dengan kualifikasi pendidikan SMA, penjaga 1 orang dengan kualifikasi pendidikan SMA, murid sejumlah 66, pengawas sekolah dengan kualifikasi pendidikan S2, komite sekolah dan orang tua murid.

 

Modal sosial meliputi : kesepakatan kelas, tata tertib sekolah, kode etik guru, pembiasaan amal jumat, Organisasi pramuka, akses internet (wifi), komunitas praktisi, KKG, dan PKG

Modal fisik meliputi: ruang kepala sekolah, ruang kelas berjumlah 4, ruang UKS, perpustakaan, ruang laboratorium, kamar mandi siswa berjumlah 4, kamar mandi guru, lapangan upacara, mushola, parkir siswa dan guru, prasarana (drainase, air bersih, tempat cuci tangan berjumlah komputer, LCD.

 

Modal lingkungan meliputi: lahan yang masih luas, udaranya yang masih bersih dan lingkungan yang nyaman

 

Modal finansial meliputi : Dana BOS, BOSKAB dan BOSDA, dan Komite.

 

Modal politik meliputi inas Pendidikan Kab. Malang, Kantor Kepala Desa, Puskesmas, Polsek, Koramil.

 

Modal agama dan budaya meliputi : Suku Jawa, Agama Islam dan Non Muslim, kegiatan keagamaan


Ketujuh aset sekolah di atas merupakan sebuah potensi yang kami miliki dan kuasai. Dalam pembelajaran di sekolah kami selalu memberdayakan ketujuh aset dengan maksimal dan efektif untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.

Yang paling kami banggakan dari sekolah kami adalah prestasi-prestasi yang diraih oleh siswa-siswa SMP Dharma Wanita 09 Kromengan. Kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam membangun anak yang berprestasi.

Adapun keunikan dari sekolah kami adalah karena sekolah kami terletak di lingkungan pedesaan tepatnya di tengah-tengah kecamatan dan untuk lokasi enak dicari.

Kekuatan lain dari aset sekolah kami adalah kerjasama dan kekompakan untuk selalu memajukan dan membenahi lingkungan SMP Dharma Wanita 09 Kromengan lewat komunitas praktisi sekolah.

Usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah agar lebih baik dari sekolah lainnya adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan komite sekolah, masyarakat, wali murid, dan instansi setempat dalam memajukan SMP Dharma Wanita 09 Kromengan.

 

 

 

SALAM GURU PENGGERAK


Share:

Tugas Modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi

Haii ... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana. Pada kesempatan kali ini ijinkan saya berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat saya bagikan yaitu tugas modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Tak terasa perjalanan guru penggerak angkatan 2 ini sudah sampai pada modul 3.1 yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sudah begitu banyak materi dan ilmu-ilmu baru yang dipelajari mulai dari modul 1.1 sampai 3.1 ini. Tentunya semua ilmu-ilmu yang sudah didapat tersebut akan sangat berguna dan bermanfaat untuk mewujudkan merdeka belajar.

Di awal modul 1.1 kita sudah mempelajari filosofi pendidikan yang disampaikan oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Di dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin (guru) harus menerapkan sistem among (menuntun) agar mampu mendorong tumbuh kembangnya potensi siswa. 

Selain itu, seorang pemimpin (guru) harus selalu berpedoman pada Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kaitannya dengan pengambilan keputusan, seorang pemimpin (guru) harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, arif, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (siswa), seorang pemimpin (guru) harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (siswa), dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.  

Di dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin (guru) harus selalu menyelaraskan dengan visi dan misi yang telah disusun dan disepakati bersama, agar apa yang diputuskan jelas dan terarah. Utamanya dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid sehingga terwujud merdeka belajar.

 

Bapak/Ibu guru di seluruh nusantara, 

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Anda diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain? 

Dalam pengambilan sebuah keputusan akan ada dua hal yang kita temukan yaitu bujukan moral dan dilema etika. Nah apakah perbedaan keduanya itu?

  • Bujukan moral atau benar vs salah adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan.
  • Dilema etika atau benar vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. 

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini.

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Dalam pengambilan sebuah keputusan ada tiga prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut yaitu. 

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

 

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
  5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
  6. Melakukan Prinsip Resolusi.
  7. Investigasi Opsi Trilema.
  8. Buat Keputusan.
  9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. 

Selain menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, kita juga  bisa menerapkan teknik coaching di dalam pengambilan keputusan. Melalui teknik coaching ini kita dapat memunculkan potensi-potensi yang kita miliki untuk dapat menyelesaikan situasi dilema etika yang kita alami. 

 

Demikianlah tugas modul 3.1.a.8 tentang koneksi antar materi modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat.

 

 

SALAM GURU PENGGERAK

Share:

3.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Haii ... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana ini. Pada kesempatan kali ini ijinkan admin berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat admin bagikan yaitu refleksi terbimbing saya dari mempelajari modul 3.1 materi Pengambilan keputusan sebagai pemimpin Pembelajaran.

 

Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini:

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis”.

Jawaban : Pendidikan secara umum bertujuan membantu manusia menemukan akan hakikat kemanusiaannya. Maksudnya, pendidikan harus mampu mewujudkan manusia seutuhnya. Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap manusia untuk mampu mengenal, mengerti, dan memahami realitas kehidupan yang ada di sekelilingnya hingga dapat berperilaku sesuai realitas kehidupan. Dengan adanya pendidikan, diharapkan manusia mampu menyadari potensi yang ia miliki. Potensi yang dimiliki contohnya SQ (Spiritual Quotient atau Kecerdasan Spiritual) agar setiap tindakannya dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. EQ (Emotional Quotient atau Kecerdasan Emosi) agar manusia mampu mengendalikan emosinya, memahami perasaan orang lain. IQ (Intelligence Quotient atau Kecerdasan Inteligensi) agar manusia memiliki kemampuan berhitung, kemampuan verbal, kemampuan membedakan, dan membuat prioritas. SocQ (Social Quotient atau Kecerdasan Sosial) agar manusia senang berkomunikasi, berteman, menolong, membuat orang lain bahagia, dan bekerja sama.

 

JUDUL REFLEKSI

DILEMA ADALAH BUMBU KEHIDUPAN

 

Dari tujuh buah soal, saya memutuskan untuk memilih empat soal berikut ini pada sesi refleksi.

 

Soal 1:

Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Jawaban:

Pemahaman saya tentang dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup yang disebut sebagai paradigma dalam pengambilan keputusan. Secara umum paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika ada 4 seperti di bawah ini:

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

 

Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.

 

Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan :

Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

Pengujian paradigma benar lawan benar

Melakukan prinsip resolusi

Investigasi opsi trilema

Buat keputusan

Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah keputusan tersebut diambil dari sudut pandang siapa akan berbeda dalam setiap kasusnya.

 

Soal 2:

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 

Jawaban: sebelum mempelajari modul ini seringkali saya sebagai guru mengalami dilema terhadap berbagai situasi sulit di sekolah. Saya sudah mengambil keputusan yang kiranya efektif dan baik bagi saya selaku orang yang mengalami dilema dan baik bagi orang lain yang terkait dengan situasi yang saya alami. Namun dengan mempelajari modul ini saya menjadi tahu  bahwa terdapat Sembilan langkah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengujian dan pengambilan keputusan yang harus saya pikirkan matang-matang dan temukan jawabannya dari situasi saya.

 

Soal 3:

Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Jawaban:

Sebelumnya saya kurang memperhitungkan paradigma apa yang terjadi dalam dilema saya setelah saya belajar modul, dampaknya saya menyadari apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi saya, bahwa ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting bagi saya. Perubahan yang terjadi pada cara saya mengambil keputusan adalah mengenali terlebih dahulu apa masalahnya?, masalah siapa ini? Paradigma apa yang terjadi dalam situasi ini?. sebelum mengambil keputusan saya berpikir menggunakan tiga prinsip pengambilan keputusan, dan Sembilan langkah pengambilan keputusan.

 

Soal 4 :

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

 

Jawaban:

Saya sebagai guru, merupakan pemimpin pembelajaran bagi murid dan  bagian dari stakeholder di sekolah. Akan banyak situasi disekolah yang akan terselesaikan dengan efektif setelah mengetahui dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga tempat saya menjalankan tugas keprofesian saya.

 


SALAM GURU PENGGERAK

Share:

MATERI INFORMATIKA KELAS 8

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi Anak-anak

Bagi anak-anak kelas 8 saya akan membagikan materi tentang Jaringan Komputer (Internet), jika kurang paham tentang materi tersebut bisa langsung bertanya kepada bapak melalui chat WA agar dapat saya terangkan mana yang tidak dimengerti. Sebelum membaca materi silahkan isi daftar hadir dulu, setelah itu anak-anak mohon mengikuti soal quizizz yang sudah saya berikan dibawah ini. 


Untuk Daftar Hadir silahkan klik tautan berikut : 


Untuk Materi klik tautan berikut ini :



Untuk mengikuti soal Quizizz silahkan klik tautan berikut : (Tulis Nama Kalian Di Quizizz )

https://quizizz.com/join?gc=182015



Ubahlah hidupmu hari ini. Jangan bermain-main dengan masa depanmu lakukan sekarang, jangan menunda." - Simone de Beauvoir
Share:

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

 SINTESIS BERBAGAI MATERI

 

Oleh:

 Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2

Kab. Malang

 

A.   Kesimpulan

Sebagai seorang guru, hendaknya kita juga berperan sebagai coach mengapa? Ya, karena sejatinya peran guru adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi)  agar mencapai keselamatan dan kebahagaiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Lalu apa itu coaching? Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Murid kita disekolah mempunyai potensi yang berbeda-beda, tugas guru adalah untuk memfasilitasi mereka agar berkembang. Kompetensi dasar yang harus kita miliki agar menjadi coach yang hebat bagi murid-murid adalah:

1.    Keterampilan membangun dasar proses coaching

2.    Keterampilan membangun hubungan baik

3.    Keterampilan berkomunikasi

4.    Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

Dari keempat kompetensi dasar di atas, sangat erat kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional. Mengapa? Karena dalam proses coaching sendiri membutuhkan pendekatan sosial dan emosional kepada murid. Dimana kita harus bisa membangun hubungan baik, berkomunikasi yang baik dengan murid, dan memahami kebutuhan-kebutuhan tiap murid. Jadi dengan menguasai teknik-teknik pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial-emosional, dan coaching, guru telah siap untuk memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid. Karena dari ketiga pembelajaran tersebut semuanya berpusat pada murid.

Proses coaching berbeda dengan mentoring dan konseling. Seorang coach (pemberi manfaat dan pelaksana kegiatan coaching)  tidak langsung memberikan solusi atas permasalah yang dihadapi oleh coachee (penerima kegiatan dan manfaat dari kegiatan coaching) melainkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan rangsangan atau pemantik agar coachee menemukan alternatif solusinya sendiri.

Model coaching yang banyak digunakan adalah TIRTA. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching.  Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

 

TIRTA kepanjangan dari:

T  : Tujuan
I   : Identifikasi
R  : Rencana aksi
TA : Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan. 

 

B.   Refleksi

Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Perlu kerja keras dan komitmen dari seorang guru untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Salah satu caranya yaitu dengan terus meningkatkan kompetensinya. Guru dituntut untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan belajar tiap murid yang berbeda-beda dengan memberikan pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus bisa mengenali emosi dan membangun hubungan sosial-emosional dengan murid, dan juga guru harus bisa menjadi seorang coach bagi murid-muridnya dalam rangka mengembangkan segala potensi yang ada pada murid. Guru yang berperan sebagai coach menunjukan sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid. Untuk itu marilah kita semua belajar dan terus belajar demi kemajuan dan perkembangan murid-murid kita.

 

RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA



SALAM GURU PENGGERAK

Share:

2.3.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 14

JURNAL REFLEKSI MINGGU 14

 

SURYA ADI NAFITRI, S.Pd

CGP ANGKATAN 2 KAB. MALANG

SMP DHARMA WANITA 09 KROMENGAN

 

Tentang Caoching Modul 2.3

Model 5: 4C (Connection, Challenge, Concept, Change)

 

Connection

Keterkaitan materi yang didapat dengan peran saya sebagai CGP adalah: mempelajari tentang Coaching, yaitu proses seorang coach (guru) mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada coachee (murid) sehiangga coachee dapat penyelesaikan permasalahannya sendiri, konteks yang dibicarakan adalah masa sekarang dan masa yang akan dating. Salah satu keterampilan yang diperlukan oleh seorang guru karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajaran, serta meningkatkan potensinya sendiri.

 

Challenge

Pelaksanaan Coaching yang saya lakukan selama ini masih dalam bentuk sederhana tanpa menggunakan Teknik yang tepat, akan tetapi setelah mempelajari materi pada modul ini, saya mendapat pelajaran dan Teknik baru dalam melakukan coaching di sekolah.

 

Concept

Konsep utama dan penting yang saya pelajari dari modul 2.3 adalah :

  • Tujuan Coaching adalah mengarahkan coachee untuk menyelesaikan masalah sendiri dan memaksimalkan potensinya.
  • Seorang Coaching harus memiliki 4 kompetensi dasar yaitu :

    1. Keterampilan membangun dasar proses coaching
    2. Keterampilan membangun hubungan baik
    3. Keterampilan berkomunikasi
    4. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran
  • Empat aspek komunikasi yang perlu dipahami dan dilatih untuk mendukung praktik coaching yaitu :
    1. Komunikasi Arsertif
    2. Pendengar yang baik
    3. Bertanya efektif
    4. Umpan balik positif
  • Penggunaan model coachng yang dipraktekkan yaitu TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggungjawab) dengan model GROW (Goal, Reality, Options dan Will)

 

Change

Perubahan yang akan saya lakukan setelah mempelajari materi pada modul ini adalah :

  1. Pemahaman saya tentang pengertian coaching
  2. Memiliki dan menguasai 4 kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang coaching
  3. Melatih kemampuan berkomunikasi yang mendukung dalam melakukan coaching
  4. Melakukan coaching menggunakan Teknik model TIRTA

SALAM GURU PENGGERAK

Share:

AKSI NYATA MODUL 2.1 & 2.2

Salam dan Bahagia. Berikut ini merupakan aksi nyata tentang pembelajaran sosial emosional. Adapun tugas yang admin bagikan yaitu modul 2.2.a.10 Pembelajaran Sosial Emosional.

Aksi Nyata & RPP Sosial Emosional


Video Aksi Nyata


Demikian tugas modul 2.2.a.10 tentang Pembelajaran Sosial Emosional yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat.


SALAM GURU PENGGERAK
Share:

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Salam dan Bahagia. Berikut ini merupakan infografis tentang pembelajaran sosial emosional. Adapun tugas yang admin bagikan yaitu modul 2.2.a.9 Koneksi Antar Materi Pembelajaran Sosial Emosional.

Koneksi Antar Materi Modul ini penulis buat dalam bentuk infografis.


Berikut infografisnya


Demikian tugas modul 2.2.a.9 tentang Koneksi Antar Materi Pembelajaran Sosial Emosional yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat.


SALAM GURU PENGGERAK
Share:

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Salam dan Bahagia. Berikut ini merupakan infografis tentang bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal serta kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Klik gambar agar lebih jelas



SALAM GURU PENGGERAK


Share:

Tugas Modul 2.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual

Haii... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana ini. Pada kesempatan kali ini ijinkan admin berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat admin bagikan yaitu tugas modul 2.1.a.7 tentang Demonstrasi Kontekstual tentang pembuatan RPP Berdifrensiasi.

Pada penyusunan RPP ini penulis mengambil materi Kelas VII Pelajaran Informatika Pada KD. 3.5. Mengenal sebuah lingkungan pemrograman visual serta memahami objek-objek yang dapat diprogram dan perintah/instruksi dalam lingkungan tersebut dan 4.5.1. Olah pikir (thinkering), meniru (menulis ulang), mengamati dan/atau mengikuti sebuah tutorial, untuk membuat program visual sederhana.

Berikut ini RPP yang penulis susun 


Demikian tugas modul 2.1.a.7 tentang Demontrasi Kontekstual yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat


SALAM GURU PENGGERAK

Share:

2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Pembelajaran Diferensiasi

Haii... sahabat blogger, jumpa lagi di blog sederhana ini. Pada kesempatan kali ini ijinkan admin berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat admin bagikan yaitu tugas modul 2.1.a.6 tentang refleksi terbimbing.

 

Berikut ini pertanyaannya :

  1. Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas Anda?
  2. Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan?
  3. Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut.
  4. Jika Anda menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar siswa Anda tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi beranikah Anda mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran Anda, meskipun hal tersebut mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada? Jelaskan pendapat Anda dengan alasannya.

Berikut jawaban atas pertanyaan di atas :

  1. Berdasarkan apa yang telah saya pelajari pada modul ini pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi bagi permasalahan terkait pembelajaran. Tentunya di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas pastinya seorang guru akan menemui murid yang beraneka ragam, baik dari segi kemampuan dasarnya, minatnya, gaya belajarnya dll. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Adapun diferensiasi yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dari segi konten, proses, dan juga produk yang dihasilkan siswa.
  2. Menurut saya yang sulit diterapkan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu mengenali kebutuhan belajar murid. Dengan jumlah siswa yang mencapai 22 orang dengan beraneka ragam latar belakang, tentunya perlu waktu yang ekstra bagi seorang guru untuk mengenali kebutuhan belajar muridnya. Apalagi dalam situasi pembelajaran daring seperti ini dimana guru tidak bisa bertemu dengan muridnya.
  3. Dukungan yang saya perlukan yaitu dukungan penuh dari orang tua siswa untuk memastikan anak-anaknya dapat terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga guru dapat mengenali murid-muridnya dengan baik. Selain itu, saya juga harus memastikan para orang tua agar mendampingi anak-anaknya saat saya melakukan sebuah survey untuk mengetahui profil murid saya, memastikan semua murid mengisi surveynya. Untuk mendapat dukungan tersebut tentunya saya akan mengoptimalkan grup whatsapp dan berkomunikasi melalui whatsapp grup.
  4. Menurut saya, jika saya berada pada situasi dimana kebutuhan belajar siswa saya tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi, maka saya akan dengan berani mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran yang saya lakukan, meskipun hal tersebut mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada. Kondisi siswa di kelas secara penuh diketahui oleh gurunya, oleh karena itu guru berhak melakukan berbagai macam inovasi dan kreatifitas dalam melaksanakan pembelajaran dengan tujuan agar semua siswa mendapatkan pembelajaran sesuai yang mereka butuhkan.

 

Demikianlah tugas modul 2.1.a.6 tentang refleksi terbimbing yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat.


SALAM GURU PENGGERAK
Share:

2.1.a.4.1. Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep


Menjawab Pertanyaan Bedasarkan Tayangan Video pada Modul 2.1.a.4.1.

Pertanyaan Pertama
Berdasarkan Tayangan Video Pada Modul 2.1.a.4.1. adalah "Informasi atau fakta apa yang disampaikan dalam video tersebut?"

Pada tayangan video pertama, informasi yang disampaikan berkenaan dengan kurikulum berdiferensiasi. Dijelaskan ada 3 aspek kebutuhan belajar yaitu : (1) Kesiapan Belajar; (2) Minat Belajar; (3) Profil Belajar

Disebutkan juga ada 3 strategi diferensiasi yaitu : 

  1. Diferensiasi konten, yang mana terkait dengan materi ajar yang disampaikan murid, media konkret dan abstrak, dan memastikan murid dapat mengakses materi sesuai gaya belajarnya.
  2. Diferensiasi proses, yang mana terkait dengan pemahaman murid dalam memaknai materi yang dipelajari
  3. Diferensiasi produk, terkait dengan tagihan pembelajaran atau hasil karya pekerjaan murid, atau sesuatu yang ada wujudnya, seperti tulisan, karanan, video, foto, dll
Pada tayangan video kedua, informasi yang disampaikan berkenaan dengan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi. dimana lingkungan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap pengimplementasian pembelajaran secara berdiferensiasi. Lingkungan belajar yang baik mampu menciptakan komunitas yang aman, nyaman, saling menghargai, saling mendukung dan tentunya akan mencapai kesuksesan  belajar yang efektif dan berkualitas.

Pertanyaan Kedua
Berdasarkan Tayangan Video Pada Modul 2.1.a.4.1. adalah "Gagasan baru apa yang Anda dapatkan dari vedio yang Anda saksikan tersebut?"

Gagasan baru yang saya dapatkan setelah menonton tayangan kedua video tersebut antara lain : (1) Pembelajaran berdiferensiasi; (2) RPP berdiferensiasi; (3) Kurikulum berdiferensiasi; (4) Penerapan pembelajaran berdiferensiasi; (5) Bagaimana lingkungan belajar sangat mempengaruhi penerapan pembelajaran berdiferensiasi

Pertanyaan Ketiga
Berdasarkan Tayangan Video Pada Modul 2.1.a.4.1. adalah "Apakah yang menurut Anda sulit diimplementasikan?Mengapa?"

Menurut pendapat saya, yang akan sulit diimplementasikan adalah : (1) Pengimbasan atau aksi nyata; (2) Penyusunan RPP berdiferensiasi; (3) Asesmen/penilaian

Hal ini dikarenakan kurikulum berdiferensiasi masih awam untuk saya dan teman-teman guru lainnya, kami juga membutuhkan waktu untuk memahami pembelajaran ini sepenuhnya, disamping itu kurikulum sekarang menurut saya masih berbasis kompetensi, jadi sepertinya belum sinkron dengan kurikulum berdiferensiasi.

Pertanyaan Keempat
Berdasarkan Tayangan Video Pada Modul 2.1.a.4.1. adalah "Apakah yang masih Anda miliki atau klarifikasi apakah yang masih Anda perlukan terkait dengan isi video tersebut?"

Berdasarkan tayangan video tersebut, ada beberapa hal yang ingin saya gali lebih dalam lagi yaitu :

  1. Apakah kurikulum berdiferensiasi ini cocok untuk diterapkan di Indonesia?
  2. Jika jawabannya Ya, maka sudah adakah sekolah yang menerapkan kurikulum ini?
  3. Contoh kongkret penerapannya seperti apa dan bagaimana mereka melakukan penilaian terhadap pembelajaran berdiferensiasi ini?


TERIMA KASIH
SALAM GURU PENGGERAK

Share:

Tugas 2.1.a.4.2 Pemetaan Kebutuhan dan Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi

Salam dan bahagia bapak/ibu calon guru penggerak

Diagram Frayer tentang pembelajaran berdiferensiasi, yaitu tugas pada LMS yang saya buat sebagai berikut :

Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi


Tugas Pemetaan Kebutuhan Murid berdasarkan Minat, Kesiapan Belajar, dan Profil Belajar

 

Demikian tugas yang saya kerjakan sebagai hasil ekplorasi konsep tentang pembelajaran berdiferensiasi. Semoga bermanfaat untuk dijadikan sharing bersama Calon Guru Penggerak yang lain.  Mohon masukan dan sharing bersama jika untuk perbaikan tugas saya ke depannya.


Share:

Budaya Positif

Aksi Nyata Modul 1.4 (Budaya Positif)

 

Mengembangkan Budaya Positif dengan bersahabat dengan sampah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.   Latar belakang

Sejatinya setiap individu pasti mengharapkan hidup dengan nyaman di lingkungan yang bersih dan asri, agar tempat tinggal sehari-hari dapat menciptakan udara yang sehat bagi kebutuhan tubuh kita. Namun kondisi alam dan kebutuhan serta telah pudarnya rasa keperdulian masyarakat akan hal itu, nampaknya akan terasa sulit di capai pada zaman sekarang. Salah satu yang kini menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat terkait kenyamanan lingkungan hidup adalah sampah, baik sampah hasil rumah tangga maupun sampah pada umumnya. Karena sampah merupakan hal yang pasti dihasilkan oleh makhluk hidup di dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan pola hidup sehat dan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan dari sejak dini. Budaya inilah yang harus dibina dari kecil untuk kelestarian lingkungan. Pada zaman sekarang banyak pelajar yang kurang peduli dengan keberadaan sampah dari dampak negatif yang ditimbulkan. Banyak sekali kita lihat banyak lokasi pembuangan sampah bukan pada tempatnya. Jika kita amati penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang berguna melalui proses daur ulang. Kita terkunci pada pemahaman sampah harus dibuang atau dijauhkan dari tempat kita tanpa berfikir akan menjadi masalah baru ditempat yang lain (pembuangan).

Oleh karena itu perlunya pemahaman siswa mengenai sampah dan dampak yang ditimbulkan. Selain itu kita berusaha memunculkan pemikiran yang positif dari siswa bagaimana menanggulangi masalah sampah dari pemilahan sampah organik dan sampah anorganik serta pemanfaatan sampah menjadi bermanfaat. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga akan timbul kebiasaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan menjadikan sampah  bernilai ekonomis tinggi  


B.   Tujuan

  1. Menumbuhkan rasa cinta dan peduli siswa pada lingkungan
  2. Menumbuhkan pengetahuan siswa mengenai sampah (dampak dan manfaatnya)
  3. Mengembangkan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan sampah agar dapat bernilai
  4. Mampu menjadi penggerak dalam melestarikan lingkungan
  5. Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat dan teratur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah

C.   Tolak Ukur

  1. Siswa dapat memilah milah sampah dirumah tangga dan mengolah/ mendaur ulang sampah yang dihasilkan
  2. Siswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan sadar dan berkelanjutan

D.   Linimasa tindakan yang dilakukan

Adapun tahap yang dilakukan:

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfaatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku)
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa merumuskan apa yang mereka lakukan dalam mengatasi sampah dan pengolahannya dilingkungan tempat tinggal mereka
  4. Siswa mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga

E.   Hasil Linimasa tindakan yang dilakukan

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah melalui aplikasi Quizziz dilink https://quizizz.com/admin/quiz/60d9b603e2b131001b4ac452/pengertian-sampah-dan-jenisnya
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku) Buku tentang sampah https://drive.google.com/file/d/1ICqjR1nlEYRkIpXx6YU5oeQxcqZ1WEef/view?usp=sharing
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa melalui pembelajaran siswa membuat sebuah kerajinan dalam mengatasi sampah dan mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga.

-      Beberapa hasil kerajinan siswa dari sampah :





 

-  Video tentang memilah sampah rumah tangga di Bank Sampah Desa Kromengan

https://www.youtube.com/watch?v=ChvXWBgzxqI 


F.   Kendala yang dihadapi selama melaksanakan Aksi Nyata

Partisipasi siswa hanya 80% dalam proses pembelajaran dikarenakan jaringan internet yang kurang bagus dan motivasi belajar siswa kurang baik. Partisipasi siswa dalam membuat tugas 65% dikarenakan kurang kontrol orang tua, semangat siswa masih rendah dan pengontrolan guru yang tidak maksimal karena dilakukan hanya melalui HP. Belum dapat mengukur langsung kemampuan siswa sejauh mana kepedulian siswa terhadap sampah

 

G.   Saran

Untuk hasil maksimal pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan membuat sebuah kegiatan outclass dengan mengunjungi bank sampah yang ada di Desa Kromengan.


Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js