Tugas 2.1.a.4.2 Pemetaan Kebutuhan dan Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi

Salam dan bahagia bapak/ibu calon guru penggerak

Diagram Frayer tentang pembelajaran berdiferensiasi, yaitu tugas pada LMS yang saya buat sebagai berikut :

Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi


Tugas Pemetaan Kebutuhan Murid berdasarkan Minat, Kesiapan Belajar, dan Profil Belajar

 

Demikian tugas yang saya kerjakan sebagai hasil ekplorasi konsep tentang pembelajaran berdiferensiasi. Semoga bermanfaat untuk dijadikan sharing bersama Calon Guru Penggerak yang lain.  Mohon masukan dan sharing bersama jika untuk perbaikan tugas saya ke depannya.


Share:

Budaya Positif

Aksi Nyata Modul 1.4 (Budaya Positif)

 

Mengembangkan Budaya Positif dengan bersahabat dengan sampah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.   Latar belakang

Sejatinya setiap individu pasti mengharapkan hidup dengan nyaman di lingkungan yang bersih dan asri, agar tempat tinggal sehari-hari dapat menciptakan udara yang sehat bagi kebutuhan tubuh kita. Namun kondisi alam dan kebutuhan serta telah pudarnya rasa keperdulian masyarakat akan hal itu, nampaknya akan terasa sulit di capai pada zaman sekarang. Salah satu yang kini menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat terkait kenyamanan lingkungan hidup adalah sampah, baik sampah hasil rumah tangga maupun sampah pada umumnya. Karena sampah merupakan hal yang pasti dihasilkan oleh makhluk hidup di dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan pola hidup sehat dan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan dari sejak dini. Budaya inilah yang harus dibina dari kecil untuk kelestarian lingkungan. Pada zaman sekarang banyak pelajar yang kurang peduli dengan keberadaan sampah dari dampak negatif yang ditimbulkan. Banyak sekali kita lihat banyak lokasi pembuangan sampah bukan pada tempatnya. Jika kita amati penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang berguna melalui proses daur ulang. Kita terkunci pada pemahaman sampah harus dibuang atau dijauhkan dari tempat kita tanpa berfikir akan menjadi masalah baru ditempat yang lain (pembuangan).

Oleh karena itu perlunya pemahaman siswa mengenai sampah dan dampak yang ditimbulkan. Selain itu kita berusaha memunculkan pemikiran yang positif dari siswa bagaimana menanggulangi masalah sampah dari pemilahan sampah organik dan sampah anorganik serta pemanfaatan sampah menjadi bermanfaat. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga akan timbul kebiasaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan menjadikan sampah  bernilai ekonomis tinggi  


B.   Tujuan

  1. Menumbuhkan rasa cinta dan peduli siswa pada lingkungan
  2. Menumbuhkan pengetahuan siswa mengenai sampah (dampak dan manfaatnya)
  3. Mengembangkan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan sampah agar dapat bernilai
  4. Mampu menjadi penggerak dalam melestarikan lingkungan
  5. Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat dan teratur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah

C.   Tolak Ukur

  1. Siswa dapat memilah milah sampah dirumah tangga dan mengolah/ mendaur ulang sampah yang dihasilkan
  2. Siswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan sadar dan berkelanjutan

D.   Linimasa tindakan yang dilakukan

Adapun tahap yang dilakukan:

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfaatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku)
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa merumuskan apa yang mereka lakukan dalam mengatasi sampah dan pengolahannya dilingkungan tempat tinggal mereka
  4. Siswa mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga

E.   Hasil Linimasa tindakan yang dilakukan

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah melalui aplikasi Quizziz dilink https://quizizz.com/admin/quiz/60d9b603e2b131001b4ac452/pengertian-sampah-dan-jenisnya
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku) Buku tentang sampah https://drive.google.com/file/d/1ICqjR1nlEYRkIpXx6YU5oeQxcqZ1WEef/view?usp=sharing
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa melalui pembelajaran siswa membuat sebuah kerajinan dalam mengatasi sampah dan mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga.

-      Beberapa hasil kerajinan siswa dari sampah :





 

-  Video tentang memilah sampah rumah tangga di Bank Sampah Desa Kromengan

https://www.youtube.com/watch?v=ChvXWBgzxqI 


F.   Kendala yang dihadapi selama melaksanakan Aksi Nyata

Partisipasi siswa hanya 80% dalam proses pembelajaran dikarenakan jaringan internet yang kurang bagus dan motivasi belajar siswa kurang baik. Partisipasi siswa dalam membuat tugas 65% dikarenakan kurang kontrol orang tua, semangat siswa masih rendah dan pengontrolan guru yang tidak maksimal karena dilakukan hanya melalui HP. Belum dapat mengukur langsung kemampuan siswa sejauh mana kepedulian siswa terhadap sampah

 

G.   Saran

Untuk hasil maksimal pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan membuat sebuah kegiatan outclass dengan mengunjungi bank sampah yang ada di Desa Kromengan.


Share:

Rancangan Aksi Nyata Modul 1.4 (Budaya Positif)


Mengembangkan Budaya Positif dengan bersahabat dengan sampah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.   Latar belakang

Sejatinya setiap individu pasti mengharapkan hidup dengan nyaman di lingkungan yang bersih dan asri, agar tempat tinggal sehari-hari dapat menciptakan udara yang sehat bagi kebutuhan tubuh kita. Namun kondisi alam dan kebutuhan serta telah pudarnya rasa keperdulian masyarakat akan hal itu, nampaknya akan terasa sulit di capai pada zaman sekarang. Salah satu yang kini menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat terkait kenyamanan lingkungan hidup adalah sampah, baik sampah hasil rumah tangga maupun sampah pada umumnya. Karena sampah merupakan hal yang pasti dihasilkan oleh makhluk hidup di dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan pola hidup sehat dan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan dari sejak dini. Budaya inilah yang harus dibina dari kecil untuk kelestarian lingkungan. Pada zaman sekarang banyak pelajar yang kurang peduli dengan keberadaan sampah dari dampak negatif yang ditimbulkan. Banyak sekali kita lihat banyak lokasi pembuangan sampah bukan pada tempatnya. Jika kita amati penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang berguna melalui proses daur ulang. Kita terkunci pada pemahaman sampah harus dibuang atau dijauhkan dari tempat kita tanpa berfikir akan menjadi masalah baru ditempat yang lain (pembuangan).

Oleh karena itu perlunya pemahaman siswa mengenai sampah dan dampak yang ditimbulkan. Selain itu kita berusaha memunculkan pemikiran yang positif dari siswa bagaimana menanggulangi masalah sampah dari pemilahan sampah organik dan sampah anorganik serta pemanfaatan sampah menjadi bermanfaat. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga akan timbul kebiasaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan menjadikan sampah  bernilai ekonomis tinggi 

 

B.   Tujuan

  1. Menumbuhkan rasa cinta dan peduli siswa pada lingkungan
  2. Menumbuhkan pengetahuan siswa mengenai sampah (dampak dan manfaatnya)
  3. Mengembangkan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan sampah agar dapat bernilai
  4. Mampu menjadi penggerak dalam melestarikan lingkungan
  5. Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat dan teratur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah

 

C.   Tolak Ukur

  1. Siswa dapat memilah milah sampah dirumah tangga dan mengolah/mendaur ulang sampah yang dihasilkan
  2. Siswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan sadar dan berkelanjutan

 

D.   Linimasa tindakan yang dilakukan

Adapun tahap yang dilakukan:

  1. Siswa mengisi pertanyaan tentang sampah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang sampah
  2. Memberikan materi tentang pengertian, jenis, dampak dan cara pemanfaatan sampah (guru memberikan materi dalam bentuk buku)
  3. Setelah memperoleh pemahaman siswa merumuskan apa yang mereka lakukan dalam mengatasi sampah dan pengolahannya dilingkungan tempat tinggal mereka
  4. Siswa mendokumentasikan apa yang mereka lakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga

 

E.   Dukungan yang dibutuhkan

  1. Kontribusi orang tua di rumah dalam membimbing anak agar peduli lingkungan
  2. Kontribusi warga sekolah untuk memberikan contoh yang baik kepada siswa tentang penanggulangan sampah. 
  3. Kerjasama yang baik antara rekan kerja/peserta didik/karyawan/kepsek dan orang tua
Cara mendapatkannya adalah berkolaborasi dan membangun komitmen untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

  

Buku Tentang Sampah 

Share:

Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

 

1.4.a.9. Koneksi Antar Materi - Pentingnya Budaya Positif

Peta Konsep Koneksi Antar Materi pada Modul 1

 

Sintesis berbagai materi

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Besarnya pengaruh Pendidikan dalam masa depan anak tidak bisa disangsikan lagi. Diperlukan pondasi yang kuat demi terwujudnya karakter yang baik sehingga membawa dampak baik pula bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) yang berkaitan dengan filosofi Pendidikan yang harus dijadikan pedoman di antaranya kodrat anak, kodrat zaman, dan budi pekerti. Kodrat Anak : Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar dapat memperbaiki laku hidupnya dan tumbuh kekuatan kodrat anak. Kodrat Zaman : Melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Budi Pekerti : Watak merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.


Apakah budaya positif di sekolah berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik?

Tidak, Budaya sekolah akan terwujud manakala terdapat kolabarosai antara pemangku kepentingan di sekolah, baik siswa, rekan sejawat, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua murid maupun masyarakat agar dapat menciptakan budaya ajar yang baik menuju murid merdeka.

 


Bagaimana penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari?

Penerapan budaya positif tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi memerlukan proses dan waktu. Budaya Positif dilakukan dengan menerapkan disiplin positif secara terus-menerus dan konsisten, sehingga menjadi sebuah karakter atau nilai-nilai yang tumbuh sebagai motivasi intrinsik.

Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktikkan disiplin positif di rumah.

Berikut peran dan tanggung jawab berbagai struktur sekolah meliputi:

Guru

Memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik. Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif

Kepala sekolah

Memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah. Mendukung dan mengawasi keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif

Orang Tua

Menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten. Berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif.


Bagian mana dari modul sebelumnya yang berkaitan dan mendukung budaya positif?

Pada Modul 1.1 Mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Pendidik pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Semboyan Pendidikan menurut Ki hajar Dewantara adalah "Ing ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo mangun karso, Tut wuri handayani.

Pada Modul 1.2 Mengenai Peran dan Nilai Guru Penggerak.

Demi terwujudnya pemikiran KHD diperlukan seorang guru yang memiliki nilai Mandiri, Kolaboratif, Reflektif, Inovatif, dan Berpihak pada Murid. Nilai-nilai tersebut bertujuan untuk menjadi bekal dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, bermakna, dan lahirnya murid dengan profil pelajar Pancasila. Contoh konkret dalam penerapan nilai-nilai tersebut adalah :

- MANDIRI

Melaksanakan tanggungjawab sebagai pendidik dengan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki.

- KOLABORASI

Menerapkan model pembelajaran kolaboratif saat pembelajaran sehingga terbangun kecerdasan dalam berkomunikasi antarsesama.

- REFLEKTIF

Selalu mengadakan refleksi di setiap akhir pembelajaran.

- INOVATIF

Menyajikan suatu tantangan dan batasan dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik akan berusaha mencari solusi alternatif.

- BERPIHAK PADA MURID

Memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mengenali karakter murid lebih awal sebelum kegiatan pembelajaran, guru menjadi fasilitator dan mediator.

Dengan berbekal nilai tersebut, maka seorang guru bisa mewujudkan harapan Pendidikan seperti yang tercantum di atas, yaitu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Pada Modul 1.3 Mengenai Visi Guru Penggerak

Paradigma mengaplikasikan Inquiry Apresiatif melalui tahapan BAGJA.

Pembelajaran yang menyenangkan, saling menghargai, toleransi, bahagia dan nyaman, diskusi kelas, refleksi diri, motivasi instrinsik, menggali kekuatan, keterbukaan, apersepsi yang menyenangkan, semangat, berfikir positif, berkolaborasi, mendengarkan pendapat siswa, disiplin, tidak monoton, suasana kelas hidup, menggali potensi yang maksimal.

 

Bagaimana peran guru penggerak menularkan kebiasaan baik kepada guru lain alam membangun budaya positif di sekolah?

Cara yang efektif untuk mengajak guru tersebut dalam menerapkan Budaya Positif di kelas maupun di sekolah adalah...

Saya akan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan di sekolah (Kepala Sekolah), untuk berbagi informasi yang saya dapatkan selama mengikuti Pendidikan Calon Guru Penggerak, terutama dalam penerapan Budaya Positif di kelas. Media yang digunakan untuk berbagi informasi bisa dilakukan dengan menggunakan waktu kultum guru yang dilakukan sebelum pembelajaran baik secara online maupun offline.

 

Bagaimana guru penggerak bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah?

Setiap sekolah tentunya sudah memiliki visi dan misi masing-masing. Sebagai guru penggerak juga dituntut untuk memiliki visi dan misi yang sejalan dengan visi dan misi sekolah. Budaya sekolah di tiap-tiap sekolah merupakan implementasi dari visi dan misi sekolah. Guru penggerak bersama dengan murid membuat kesepakatan kelas untuk menumbuhkan budaya positif. Kesepakatan kelas yang berhasil menumbuhkan budaya positif di kelasnya, kemudian juga menularkan kepada rekan sejawat, dilakukan secara konsisten untuk jangka waktu yang tidak terbatas, sehingga muncul nilai-nilai karakter sebagai penerapan budaya positif di sekolah. Keberhasilan penerapan budaya positif di tingkat kelas dan pengimbasan ke rekan sejawat, secara lebih luas, bisa ditumbuhkan menjadi visi sekolah.

Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari. Tujuan akhir dari disiplin adalah agar murid dapat memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri serta menghargai orang lain.

Disiplin sebaiknya merupakan hal-hal berikut ini, yaitu :

  1. Fokus dalam mengoreksi dan mendidik
  2. Mendorong tanggung jawab dan disiplin diri
  3. Jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar maupun pendidik

Disiplin positif bukanlah :

  1. Membiarkan peserta didik melakukan apa pun yang mereka inginkan
  2. Tentang tidak memiliki aturan, batasan atau harapan
  3. Tentang reaksi jangka pendek
  4.  Hukuman alternatif untuk menampar, memukul atau mempermalukan. 

Disiplin positif bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembuatan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas terutama pada saat awal semester baru, saat ada murid yang melakukan hal yang tidak sesuai kesepakatan, sebelum menjalankan aktivitas baru, serta ketika awal masuk sekolah setelah libur panjang. Adapun panduan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah sebagai berikut : 

  1. Tanya pendapat murid (Murid akan merasa dibutuhkan dan dianggap ketika guru melibatkan mereka dari awal kegiatan).
  2. Tanyakan ide dari murid untuk mencapai kelas impian (Murid akan merasa dilibatkan dalam mengatur kelas. Ini lebih efektif daripada menyampaikan hal apa saja yang dilarang atau tidak boleh dilakukan).
  3. Ambil kesimpulan dari ide murid (Perjelas kesepakatan kelas melalui kegiatan diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari murid).
  4. Ubah ide menjadi kesepakatan kelas (Buatlah poster yang berisikan kesepakatan kelas yang disetujui di akhir kegiatan diskusi. Hindari penggunaan kata jangan dan dilarang. Sebaiknya menggunakan kata yang positif sebagai panduan tingkah laku).
  5. Tanda tangani kontrak kesepakatan kelas (Guru bersama murid menandatangani poster yang dibuat. Untuk murid PAUD bisa menggunakan cap tangan).
  6. Lihat bersama poster kontrak kesepakatan (Lakukan refleksi secara rutin terkait kontrak kesepakatan kelas yang sudah disusun. Tanyakan pada murid terkait perkembangan atau apa perlu direvisi. Apabila ada yang melanggar kesepakatan baik guru maupun murid diperlukan tindakan berupa disiplin positif). 

Catatan : Kesepakatan kelas tidak perlu terlalu banyak sehingga mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan.

Semoga dengan membuat kesepakatan kelas dapat mewujudkan budaya postif di sekolah serta dapat meningkatkan hubungan antara guru dan murid. Hubungan guru dan murid adalah faktor penting dalam membangun budaya sekolah yang baik.

Budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik diperlukan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Penerapan budaya positif sangat diperlukan dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Ada nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai moral, nilai sosial, peningkatan kepercayaan diri, saling menghargai dan bertoleransi. Semua nilai tersebut sangat berkaitan dalam penerapan budaya positif di sekolah. Demi mewujudkan budaya positif di sekolah diperlukan landasan pemikiran KHD tentang Pendidikan dan pengajaran, kodrat anak dan kodrat zaman, budi pekerti, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak melalui pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Semua itu saling mendukung satu sama lainnya. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah melalui role model maupun keteladanan. Menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah dapat dilakukan dengan langkah kecil dari sebuah kelas melalui kesepakatan kelas kemudian diimbaskan ke dalam satu tingkatan kelas dilanjutkan pengimbasan ke semua tingkatan kelas sehingga menjadi budaya positif sekolah. 

Demikian koneksi antar materi dalam modul 1 baik refleksi pemikiran KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak maupun pengantar budaya positif. Kurang lebihnya mohon maaf. Mohon perkenan bapak/ibu untuk meninggalkan komentar demi perbaikan menulis artikel ke depannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

 

 

 SALAM GURU PENGGERAK

Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js