Surya Adi Nafitri, S.Pd
CGP Angkatan 2 Kab. Malang
SMP Dharma Wanita 09 Kromengan
Surya Adi Nafitri, S.Pd
CGP Angkatan 2 Kab. Malang
SMP Dharma Wanita 09 Kromengan
Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang terjadi?
Selama
ini, saya menganggap suatu kelemahan atau kekurangan itu sebagai suatu hambatan
atau masalah. Namun ternyata anggapan itu salah, tergantung dari mana kita
memandang kelemahan itu. Bisa jadi ketika kita memandang suatu kelemahan dari
sudut pandang yang berbeda, maka akan menjadi sebuah kekuatan yang bisa kita
pakai sebagai dasar untuk melakukan suatu perubahan yang ekstrim atau tidak
biasanya. Misalnya di sekolah saya muridnya itu sedikit, hal ini akan menjadi
masalah ketika kita melihatnya dari segi pendapatan dana BOS nya. Tetapi,
ketika kita melihatnya dari segi efektivitas pengelolaan pembelajaran di kelas,
maka murid yang sedikit ini menjadi kekuatan dan keuntungan untuk kita sebagai
guru agar bisa mengelola pembelajaran dengan baik. Hal tersebut di atas sejalan
dengan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Pendekatan IA percaya bahwa setiap
orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan.
Di sekolah, pendekatan IA bisa dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal baik
yang telah ada, pertahankan sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak-adaan
menjadi tidak relevan kemudian selaraskan hal positif atau kekuatan tersebut ke
dalam visi sekolah dan visi setiap individu komunitas sekolah. Tahapan
implementasi IA ini kita kenal dengan istilah BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil
Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi).
Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran
Perasaan
yang muncul pada diri saya saat proses pembelajaran ini adalah yang pertama sedikit
kaget karena ternyata kelemahan bisa kita rubah menjadi kekuatan. Sebelumnya
belum terfikirkan akan hal ini, setelah mengetahui dan mempelajari manajemen
perubahan menggunakan pendekatan IA dengan tahapan BAGJA nya, saya menjadi
termotivasi untuk membuat kelemahan menjadi kekuatan.
Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan
Yang
perlu saya pelajari adalah bagaimana cara menganalisis kekuatan yang sudah ada,
karena untuk menemukan sebuah kekuatan itu kadang susah dan belum disadari
bahwa itu adalah kekuatan.
AKSI NYATA
Nilai dan
Peran Guru Penggerak Dalam Merdeka Belajar
Surya Adi Nafitri,
S.Pd
CGP Angkatan 2 Kab.
Malang
SMP Dharma Wanita 09
Kromengan
A. Latar
belakang
Bapak
Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan adalah
tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat
kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat
tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang
akan datang. Hal ini tentu menjadi dasar nilai-nilai dan peran guru penggerak
dalam menjalankan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik, dimulai dari
kelas.
Keterlaksanaan
pembelajaran di era 4.0 merupakan tantangan tersendiri yang dihadapi guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Konsep
merdeka belajar yang telah dilakukan akan lebih maksimal bila dikolaborasikan
dengan implementasi nilai-nilai dan peran guru penggerak. Implementasi
nilai-nilai dan peran guru penggerak merupakan bagian penting dalam pelaksanaan
kegiatan pembelajaran yang menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi murid.
Saat ini guru bukan menjadi sumber belajar utama karena banyak sekali sumber
belajar lainnya juga dari lingkungan sekitar. Hal ini akan merangsang tumbuhnya
kemandirian siswa dalam proses pembelajaran. Hal yang terkadang dihadapi adalah
bagaimana mengkolaborasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak agar bisa
bersinergi dengan konsep merdeka belajar serta pengembangan potensi siswa yang
mengikuti kodrat alam juga selaras dengan kodrat zamannya
Implementasi
dari nilai-nilai dan peran guru penggerak bertujuan untuk mewujudkan visi
sekolah yang berpihak pada murid. Tujuannya tentu saja untuk mengembangkan
pendidikan ke arah yang lebih baik lagi dimulai dari kelas dimana guru menuntun
untuk memberikan peran aktif murid dalam proses pembelajaran sehingga
menghasilkan pembelajaran bermakna.
B. Deskripsi
Aksi Nyata Yang Dilakukan
Merdeka
belajar merupakan konsep dasar yang mampu menghadirkan pembelajaran yang
menyenangkan serta mengembangkan potensi siswa selaras dengan kodrat alam dan
kodrat zamannya. Hal yang saya lakukan dengan berdasarkankan budaya kerjasama
atau gotong royong. Pembelajaran berkelompok merupakan poin penting yang saya
ambil dalam pembelajaran berbasis merdeka belajar. Hal ini dilakukan agar siswa
bisa saling mengeksplorasi potensinya dan saling melengkapi antara satu dan
lain. Hal ini merupakan bagian dari peran dan nilai guru penggerak yang
menghadirkan konsep merdeka belajar. Artinya guru memilih proses belajar yang
didasari profil siswa yakni karakteristik dan latar belakang serta potensi
siswa dalam membawakan materi pelajaran berdasakan kurikulum yang berlaku.
Nilai
dan peran guru penggerak lainnya yang saya implementasikan adalah kreatif dan
inovatif. Sebagai guru maka saya berusaha menghadirkan dan menuntun siswa dalam
mempelajari pengetahuan melalu media yang menyenangkan dan kekinian. Hal ini
penting karena karakteristisk siswa saat ini berbeda dengan zaman dahulu. Saat
ini siswa telah mengenal banyak media yang menghadirkan ragam kemajuan
teknologi, maka guru juga harus bisa beradaptasi dengan ” dunia ” siswa.
Penuntun
kemandirian juga merupakan nilai dan peran guru penggetak yang saya hadirkan
dalam pembelajaran. Hal ini penting dikarenakan saat ini guru bukanlah sumber
belajar yang utama namun sebagai motivator, fasilitator juga teladan. Sumber
belajar yang beragam harus dikenalkan kepada siswa sejak dini terutama yang
mampu mengkorelasikan teori pelajaran dengan lingkungan atau bahkan menjadikan
lingkungan sebagai sumber belajar
Guru
juga sebagai pengembang potensi siswa merupakan nilai dan peran guru penggerak
yang perlu ditumbuhkan. Hal ini saya lakukan melalui pemahaman karakteristik
siswa lebih dalam sehingga saya mampu menghadirkan pembelajaran yang efektif
terhadap siswa . Kolaborasi dengan orang tua dan wali merupakan hal penting
yang dilakukan oleh guru. Orang tua bisa menghadirkan kenyamanan dan motivasi
anak agar terus bersemangat. Namun hal penting yang perlu diingat guru
bagaimana caranya pembelajaran yang diberikan kepada murid mampu diselesaikan
berdasarkan tingkat kemampuan murid sehingga menghindari penyelesaian tugas
yang diberikan guru. Hal ini bisa dilakukan oleh guru dengan membuat materi
pelajaran menyesuaikan pencapaian kompetensi dengan didasari
kemampuan akademik murid itu sendiri. Guru juga selalu membangun komunitas
baik antar sesama guru untuk saling berbagi.
Berikut rincian
implementasi rencana aksi nyata yang saya lakukan dalam pembelajaran :
1. Pada pertemuan minggu pertama, guru memberikan media
pembelajaran yang menarik dengan menggunakan aplikasi kekinian berupa video
maupun ppt, dilanjutkan pembagian tugas dalam kelompok
2. Pada pertemuan minggu kedua, siswa melaporkan perkembangan tugas
kelompoknya dan dilanjutkan diskusi materi pelajaran. Pada pertemuan minggu
ketiga, siswa melakukan presentasi per kelompok
3. Pada pertemuan minggu keempat, dilakukan refleksi atas
pembelajaran yang telah dilaksanakan
C. Hasil
dari aksi nyata yang dilakukan
Dengan
pelaksanaan pembagian peran masing-masing anggota kelompok maka dihasilkan 100%
siswa di kelas tersebut memiliki perannya masing-masing berdasarkan diskusi
kelompok. Siswa juga dengan kelompoknya memberikan keaktifan yang ditunjukkan
dengan penyelesaian tugas kelompoknya. Komunikasi dan diskusi aktif dilakukan
untuk memantau dan menuntun siswa dalam menyelesaikan tugasnya. Guru telah
mengimplementasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak diantaranya teladan,
mengembangkan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif, menuntun
kemandirian murid, fasilitator, motivator, membangun komunitas aktif sesama
guru untuk berbagi praktik baik
D. Pembelajaran
yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)
Keberhasilan
yang dilakukan dengan tindakan memberikan peran masing-masing murid dalam
kelompok memberikan dampak positif. Murid yang selama ini ikut saja dan
cenderung diam akhirnya bisa berperan aktif. Siswa yang memiliki kemampuan
lebih dalam menggunakan aplikasi komputer akan membuat power point yang menarik
dan bisa berkreasi. Siswa yang bereksperimen bisa menampilkan video atau pptnya
dengan menarik. Siswa yang mendapat bagian presenter bisa memberikan tampilan
presentasinya dan kemampuan berkomuniaksinya dengan baik. Siswa juga
saling berbagi dalam menjawab pertanyaan dari temannya yang lain. Kegagalan
dalam aksi nyata ini karena keterbatasan waktu mengajar, sehingga perlu waktu
tambahan lagi untuk memperdalam materi yang diberikan kepada peserta didik.
E. Rencana
perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang
Kedepan maka saya akan lebih intens lagi melakukan
komunikasi terhadap siswa mengenai tugas kelompok yang mereka lakukan. Saya
juga akan menyesuaikan waktu presentasi siswa agar semua kelompok bisa
melakukan presentasinya dengan waktu yang tersedia. Per kelompok akan merangkum
hasil diskusi dan tugas kelompoknya yang dibuat dalam bentuk video agar lebih
menarik dan saling berbagi dengan temannya untuk saling memberikan masukan
positif.
Saya
juga akan menjadikan diri saya sebagai dalam kedisiplinan, kemandirian dalam
belajar dan kerja keras, memiliki integritas yang baik. Saya juga akan
membangun komunikasi yang aktif untuk berbagi praktik baik dengan sesama guru
dan pimpinan sekolah. Saya juga membangun komunikasi aktif dengan orang tua
murid agar menghasilkan kolaborasi baik dalam memberikan pendidikan
bagi anak didik.
SALAM GURU PENGGERAK
Modul 1.2.a.9. Koneksi Antar Materi – Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak
Nilai dan peran guru penggerak sejatinya melekat dalam diri pribadi. Terutama pribadi guru yang merdeka untuk bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila. Nilai guru penggerak akan menjelma kekuatan untuk melakukan perubahan. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid adalah kunci melakukan perubahan diri dan sekitar. Sedangkan peran guru penggerak merupakan gerbang masuk sebuah perubahan. Nilai dan peran tersebut haruslah seimbang dalam diri guru penggerak. Keseimbangan yang akan menjaga langkah tetap pada jalurnya — perubahan.
Sintesis Antar Materi
Nilai
dan peran guru penggerak erat
menjadi satu dengan filosofi Ki
Hadjar Dewantara. Keduanya saling menguatkan dalam mewujudkan. Nilai dan peran
akan terus bertumbuh seiring dengan pemahaman guru penggerak tentang filosofi
Ki Hadjar Dewantara yang terus bertambah. Sebagai contoh, nilai berpihak pada
murid tidak lepas dari filosofi berpihak pada murid yang digaungkan Ki Hadjar
Dewantara. Demikian halnya dengan peran guru penggerak. Contohnya adalah peran
guru penggerak dalam mewujudkan kepemimpinan murid merupakan perwujudan filosofi guru sebagai penuntun.
Refleksi Mandiri
Untuk
mencapai nilai guru penggerak yang tergerak untuk bergerak dan menggerakkan
bisa menempuh strategi yang tepat. Berikut ini beberapa strategi yang dapat
ditempuh oleh guru penggerak.
Pertama, senantiasa melakukan refleksi diri atas usaha perubahan yang telah dilakukan. Hal ini akan memudahkan guru penggerak menentukan langkah tepat guna menjamin keberlangsungan perubahan. Di dalamnya termasuk upaya meningkatkan kekuatan dan usaha menguatkan kelemahan. Untuk dapat melakukannya dengan baik, tentu guru penggerak harus menyelami lebih dalam kekuatan dan kelemahan diri. Kemauan dan kemampuan melakukan hal ini akan menjadi kunci memperbaiki diri. Perbaikan diri akan membuat upaya bergerak semakin menuju arah yang lebih baik.
Kedua, menjaga komitmen
dan konsistensi terus tergerak untuk bergerak dan menggerakkan. Strategi ini
erat kaitannya dengan nilai guru penggerak yang mandiri dan inovatif. Komitmen
akan membuat seorang guru penggerak tergerak menjaga perubahan dan menggali
kemungkinan perubahan lainnya. Tentunya perubahan yang sesuai dengan filosofi
Ki Hadjar Dewantara, yaitu sesuai kodrat alam dan zaman. Sementara itu,
konsistensi akan menjadi jaminan bagi seorang guru penggerak untuk terus
melakukan inovasi guna menciptakan pembelajaran bermakna.
Ketiga, menguatkan
komunikasi dan kerjasama. Strategi ini berkaitan dengan nilai kolaboratif.
Sebuah nilai guru penggerak yang akan mendukung perannya sebagai pemimpin
pembelajaran, menjadi coach guru, dan menggerakkan komunitas praktisi.
Komunikasi yang tepat akan membuat guru penggerak tergerak menjalani perannya.
Kerjasama yang baik dengan pihak sekolah, sejawat, orang tua/wali murid, dan
masyarakat akan memudahkan guru penggerak untuk terus bergerak dalam perubahan.
Pihak Terkait
Untuk
bisa menjadi guru penggerak yang tergerak untuk bergerak dan menggerakkan bukan
sekadar upaya dari dalam diri. Pihak-pihak tersebut bisa saja berasal dari
dalam maupun luar lingkungan sekolah.
Guru penggerak senantiasa tergerak untuk bergerak dan menggerakkan
SURYA ADI NAFITRI, S.Pd
SMP Dharma Wanita 09 Kromengan
CGP ANGKATAN 2
KAB. MALANG
SALAM GURU PENGGERAK