FUNGSI FILTER

 



Ringkasan

Fungsi FILTER Excel digunakan untuk mengekstrak nilai yang cocok dari rentang atau larik berdasarkan satu atau beberapa kondisi tertentu. Ini secara dinamis mengembalikan subkumpulan data yang memenuhi kriteria yang ditentukan. FILTER sangat berguna untuk mengisolasi data tertentu dalam kumpulan data tanpa mengubah data asli, menjadikannya alat yang sangat berharga untuk analisis dan pelaporan.


Sintaksis

=FILTER(array, include, [if_empty])

array : Rentang atau larik yang akan difilter

include : Array Boolean, disediakan sebagai kriteria, yang menentukan elemen mana yang akan disertakan dalam output

[if_empty] : [Opsional] Nilai yang akan dikembalikan ketika tidak ada hasil yang dikembalikan dari filter


Cara Menggunakan

Gunakan FILTER dengan menentukan rentang atau larik data yang ingin Anda filter dan berikan pengujian logis (atau pengujian) dalam argumen penyertaan. Pengujian ini menghasilkan TRUE atau FALSE untuk menentukan data mana yang akan disertakan dalam output. Jika tidak ada data yang memenuhi kriteria, fungsi dapat mengembalikan nilai opsional, seperti pesan khusus atau string kosong.


Contoh

Misalkan Anda memiliki tabel siswa seperti di bawah ini, untuk menyaring siswa yang berasal dari Kelas A dan mendapat nilai lebih dari 60, silakan salin atau masukkan rumus di bawah ini di sel kiri atas tabel hasil lalu tekan Enter untuk mendapatkan hasil:

=FILTER(B3: E14,(B3:B14="Class A")*(E3:E14>60),"TIDAK ADA REKAM")


Atau, gunakan referensi sel untuk membuat rumus menjadi dinamis:

=FILTER(B3: E14,(B3:B14=H3)*(E3:E14>J3),"TIDAK ADA REKAM")



Contoh Tidak Cocok

Misalkan Anda ingin memfilter siswa yang berasal dari Kelas A dan mendapat nilai kurang dari 60 (ternyata tidak ada nilai yang kurang dari 60), untuk menampilkan hasilnya sebagai tidak ada atau string teks tertentu, Anda dapat menyalin rumus di bawah ini dan tekan Enter untuk melihat hasilnya.

=FILTER(B3: E14,(B3:B14="Class A")*(E3:E14<60),"") >>> Pengembalian tidak ada


=FILTER(B3: E14,(B3:B14="Class A")*(E3:E14<60),"TIDAK ADA REKAM") >>> Pengembalian TIDAK ADA CATATAN



Share:

FUNGSI SORT

 



Sebagian orang mungkin tidak asing lagi dengan Microsoft Excel yaitu salah satu aplikasi esensial yang dibutuhkan semua orang.

Fungsi utama dari Microsoft Excel yaitu melakukan penghitungan, sehingga aplikasi ini digunakan oleh banyak pengguna, baik bagi pelajar maupun pekerja kantoran.

Meskipun bertambahnya software spreadsheet yang lain, Excel tetap tak tergoyahkan bahkan menjadi standar software spreadsheet.

Namun, karena Microsoft Excel memiliki banyak sekali rumus, dan tidak banyak orang mengetahui apa saja rumus-rumus penghitungan yang dapat dipecahkan oleh Microsoft Excel.

Maka, dalam artikel ini Anda akan mengetahui secara detail mengenai Microsoft Excel dan beberapa rumus yang paling sering digunakan.

SORT

Fungsi SORT digunakan untuk mengurutkan konten atau data dalam rentang/range atau Array. 

Jadi dengan menggunakan fungsi SORT ini bisa mengurutkan data secara otomatis dari rentang data, dan karena Fungsi SORT ini merupakan salah satu dari fungsi Dynamic Array, Anda cukup menuliskan fungsi ini pada baris / kolom pertama saja, tidak perlu menyalin rumus ke baris bawahnya atau ke kolom sampingnya, jadi lebih hemat waktu.

Contohnya :

Penulisan Syntax / sintaksis Fungsi Excel SORT adalah:

=SORT(array; [sort_index]; [sort_order]; [by_col])

Keterangan:

ArgumenKeterangan
arrayMerupakan range atau Array yang akan diurutkan.
sort_indexAngka yang menunjukan kolom atau baris sebagai dasar pengurutan.
sort_orderPilihan 1 dan -1, 1 atau jika dikosongkan untuk mengurutkan data secara Ascending (A to Z) dan angka -1 untuk mengurutkan data secara Descending (Z to A)
by_colMenunjukkan arah pengurutan, TRUE untuk mengurutkan menurut kolom dan FALSE atau jika dikosongkan untuk mengurutkan menurut baris.

Argumen Array Fungsi SORT Excel

Argumen pertama dari Fungsi SORT adalah argumen Array, argumen ini sifatnya wajib di isi, yang merupakan range referensi yang ingin diurutkan.

Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan gambar contoh fungsi SORT berikut ini:

Pada gambar diatas rentang / range data yang ingin diurutkan adalah range A2:A10, maka rumus excel yang dimasukkan pada sel B2 adalah =SORT(A2:A10).

Hasilnya terlihat pada sel B2:B10 sudah diurutkan secara ascending (A to Z). 
Bagaimana jika ingin hasilnya urut secara descending (Z to A)? 
Anda harus mengisi argumen sort_order dengan nilai -1, selengkapnya silahkan lanjutkan membaca tutorial ini.

Argumen Sort_Index Fungsi SORT Excel

Argumen Fungsi SORT yang kedua adalah sort_index, argumen ini sifatnya opsional. Fungsinya untuk menentukan kolom atau baris mana yang dijadikan rujukan dalam mengurutkan data. 

Jika argumen sort_index tidak di isi atau dikosongkan maka otomatis kolom atau baris pertama yang akan dijadikan rujukan.


Pada gambar di atas range rujukan atau argumen Array dari fungsi SORT adalah range A3:C11.

Ada 4 contoh penggunaan fungsi SORT dengan menyertakan argumen sort_index-nya.
  1. Fungsi SORT untuk mengurutkan data berdasarkan kolom pertama, rumus excel yang digunakan adalah =SORT(A3:C111). Angka 1 merupakan argumen sort_order dari fungsi SORT untuk menentukan kolom 1 sebagai acuan untuk mengurutkan data di Excel.
  2. Mengurutkan data di Excel berdasarkan acuan data dari kolom kedua, rumus excel yang digunakan adalah =SORT(A3:C112).
  3. Contoh ketiga, menjadikan kolom ketiga sebagai acuan untuk mengurutkan data dengan fungsi SORT, rumus excel yang digunakan adalah =SORT(A3:C113).
  4. Contoh terakhir adalah menggunakan dua kolom sebagai data acuan mengurutkan data di excel menggunakan fungsi SORT, penulisannya harus di apit tanda kurung kurawal "{...}".

    Jadi untuk menjadikan kolom pertama dan kedua sebagai rujukan dalam mengurutkan data di excel, penulisan rumus excelnya adalah =SORT(A3:C11{2;1}).

Argumen Sort_Order Fungsi SORT Excel

Argumen opsional pada fungsi excel SORT selanjutnya atau yang ketiga adalah sort_order, argumen ini bisa Anda gunakan untuk menentukan pilihan pengurutan, apakah mau menggunakan ascending atau menggunakan descending.

Ascending (A to Z) adalah mengurutkan data menaik, dari yang terkecil ke yang terbesar (Sort Smallest to Largest).

Descending (Z to A) adalah kebalikan dari ascending yaitu mengurutkan data menurun, dari nilai terbesar ke terkecil (Sort Largest to Smallest).

Default dari argumen sort_order ini adalah ascending, jadi jika argumen sort_order ini tidak disertakan di fungsi SORT maka data akan diurutkan secara ascending.

Untuk menentukan pilihan ascending atau descending pada argumen sort_order fungsi SORT hanya perlu memasukkan angka berikut.
  • angka 1 jika ingin diurutkan secara ascending (A to Z).
  • angka -1 untuk menentukan urutan secara descending (Z to A).
Contoh penggunaan fungsi SORT Excel yang menggunakan argumen sort_order:

Sumber data referensi yang ingin diurutkan adalah range A2:A10 dan karena datanya cuma satu kolom maka untuk argumen sort_index-nya bisa dikosongkan saja.

Untuk mengurutkan secara Ascending (range C2:C10) rumus excel yang digunakan adalah =SORT(A2:A10;;1).

Dan untuk mengurutkan secara Desscending (range D2:D10) rumus excel yang digunakan adalah =SORT(A2:A10;;-1).

Contoh penggunaan argumen sort_order + sort_index:

Sumber data referensi yang ingin diurutkan adalah range F2:H10.

Misalnya saja Anda ingin mengurutkan data menurun berdasarkan kolom harga, dari harga yang tertinggi ke harga yang terendah, maka rumus excelnya adalah =SORT(F2:H10;3;-1).

Nilai argumen sort_index-nya adalah 3, karena kolom harga terletak di kolom ke-3.
Sedangkan argumen sort_order-nya di isi -1, karena ingin mengurutkan secara descending.

Argumen By_Col Fungsi SORT Excel

Argumen by_col pada fungsi SORT digunakan untuk menentukan arah dari pengurutan data, argumen ini berupa nilai logika TRUE atau FALSE.

Default arah pengurutan data menggunakan fungsi excel SORT adalah menurut baris, dan dengan menggunakan argumen by_col ini anda bisa mengubah arahnya menjadi menurut kolom.

Anda hanya perlu memasukkan nilai logika TRUE atau angka 1 pada argumen by_col pada fungsi SORT untuk mengubah arahnya menurut kolom.

Jika argumen by_col dikosongkan atau tidak dimasukkan, maka nilainya dianggap FALSE dan arah urutan sortirnya menjadi menurut baris.

Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan contoh berikut ini:

Sumber data referensi yang ingin diurutkan adalah range A2:C10.
Pada gambar diatas terdapat 3 contoh dengan penggunaan argumen by_col Fungsi Excel SORT.
  1. Untuk range E2:G10 rumus excel yang dimasukkan ke sel E2 adalah =SORT(A2:C10;;;FALSE), hasilnya arah pengurutan datanya menurut baris, tepatnya pada kolom pertama.
  2. Pada range I2:K10 rumus excel yang dimasukkan ke sel I2 adalah =SORT(A2:C10;;;TRUE), hasilnya urutan kolomnya berubah, kolom pertama adalah kolom harga, kemudian kolom barang dan terakhir kolom jenis.
  3. Karena argumen by_col-nya diisikan nilai TRUE, maka arah sortir-nya menjadi menurut kolom, tepatnya berdasarkan data pada baris pertama karena itu posisi kolomnya berubah.
  4. Contoh ke-3 yakni pada range M2:O10 rumus excel yang dimasukkan ke sel M2 adalah =SORT(A2:C10;5;;TRUE), hasilnya urutan kolomnya berubah lagi, yaitu kolom harga, kolom jenis dan baru kolom barang.
  5. Mengapa bisa begitu? ini karena pada argumen sort_index dimasukkan angka 5, dan argumen by_col-nya TRUE, maka excel akan mengurutkan data menurut kolom, berdasarkan data yang ada pada baris ke-5.

Sekian tutorial tentang penggunaan fungsi Excel SORT, semoga bermanfaat...


Share:

STRUKTUR DATA : PREFIX, INFIX, DAN POSTFIX



Dalam struktur data yang kita pelajari secara umum ada 3 notasi operasi yang dilakukan untuk suatu operasi aritmatika,yaitu Prefix,Infix,dan postfix. Dan untuk mengetahui notasi-notasi yang diatas itu,sebelumnya kita harus mengenal dan mengetahui indikator yang ada di notasi itu tersebut.

Notasi ini terbentuk dari Operand dan Operator.
Operand adalah data atau nilai yang membantu dalam proses,sedangkan Operasi adalah fungsi yang digunakan dalam proses.

Contohnya:
A+B*C
2 + 5 * 3

Keterangan: A ,B ,C ,2 ,3 ,5 adalah Operand.
+,*  adalah Operator.

   Setelah kita mengenal dan mengetahui dengan Operand dan Operator, maka mari kita mengenal juga tingkat/ level yang ada didalam notasi tersebut:
-( ) (Kurung).
- ^ (Pangkat).
- * / (Perkalian / Pembagian).
- + - (Penjumlahan / Pengurangan).


Notasi ada 3 jenis, yaitu Prefix,Infix dan Postfix yang seperti kita ketahui di atas:

1. Prefix adalah notasi yang terbentuk atas operator dengan operand, dimana oprator didepan operand.
   
    contoh: A + B * C (infix).
    maka notasi prefixnya adalah: +A*BC.

    Pemecahannya:    A+B*C

Diketahui ada 3 operand yaitu: A, B, C dan 2 operand yaitu: +, *.proses dimulai dengan melihat dari hirarkhi oprator.Contoh diatas operator yang tertinggi adalah * kemudian +. Tanda * diapit oleh 2 operand yaitu B*C, prefixnya dengan menggabungkan operand dan memindahkan operator ke depan dari operand,sehingga fungsi B*C, notasi prefixnya menjadi *BC.

Sehingga hasil sementara dari notasi prefix adalah:

A+*BC

Selanjutnya mencari prefix untuk operator yang berikutnya yaitu  +, cara yang dilakukan sama seperti diatas, operator + diapit oleh operand, yaitu A dan *BC, gabungkan operand,sehingga menjadi A*BC,lalu pindahkan operator kedepan operand,sehingga hasil akhir menjadi :

+A*BC.

2. Infix adalah notasi yang membentuk atas operator dengan operand,dimana operator berada diantara operand.
   Contoh :          
                 - A + B * C
                 - (A + B) * C
                 - A - (B + C) * D ^ E

3. Postfix adalah notasi yang membentuk atas operator dengan operand, dimana operator berada dibelakang operand.
    Contoh : A + B * C ( infix).
    maka notasi postfix adalah ABC*+.

    Pemecahannya :    A + B * C

Diketahui ada 3 operand yaitu : A,B,C dan 2 operator yaitu : +, *. proses dimulai dengan melihat dari hirarkhi operator. Contoh diatas operator yang tertinggi adalah * kemudian +.

Tanda * diapit oleh kedua operand yaitu B dan C yaitu B*C, postfix dengan menggabungkan operand B dan C menjadi BC,lalu memindahkan operator ke belakang operand C, sehingga fungsi B*C, notasi postfixnya menjadi BC*. Sehingga hasil sementara dari notasi postfix adalah A + BC*

Selanjutnya mencari postfix untuk operator yang berikutnya, yaitu +, dengan cara yang dilakukan sama seperti di atas, operator + diapit oleh 2 operand, yaitu : A dan BC* gabungkan operand tersebut,sehingga menjadi ABC*,lalu pindahkan operator + kebelakang operand ABC*.
Sehingga hasil akhir  menjadi :   ABC*+.

Contoh Notasi Huruf :

Contoh Notasi Angka :



Share:

Konversi Sistem Bilangan Komputer: Desimal, Biner, Oktal



Konversi Sistem Bilangan Komputer: Desimal, Biner, Oktal

Bilangan biner atau binary digit (bit) adalah suatu sistem penulisan angka dengan menggunakan dua lambang adalah 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada masa zaman ke-17. Sistem bilangan ini merupakan landasan dari semua sistem bilangan berbasis digital. Oleh karena itu, maka sistem komputer akan mengkonversi/merubah ke empat sistem bilangan yang lain, yaitu oktal, desimal, dan heksa desimal, kedalam sistem biner. Disini akan dijelaskan beberapa bilangan Desimal, Biner dan Oktal. Bagaimana cara kerja komputer dalam melakukan konversi tersebut? Berikut penjelasannya.


Tabel Konversi



1. Konversi Bilangan Desimal ke Biner

Konversi bilangan desimal ke biner adalah dengan cara membagi bilangan desimal dengan 2 (basis bilangan biner) dan menyimpan sisa hasil bagi dari setiap pembagian sebagai bit-bit bilangan biner. Nilai konversinya adalah urutan sisa hasil bagi dari yang paling akhir.

Contoh :                                    

88(10)= … (2)

·           88 : 2 = 44 sisa 0

·           44 : 2 = 22 sisa 0

·           22 : 2 = 11 sisa 0

·           11 : 2 = 5 sisa 1

·           5 : 2 = 2 sisa 1

·           2 : 2 = 1 sisa 0

·           1 : 2 = 0 sisa 1

Maka hasil Konversinya = 1011000 (ditulis dengan urutan dari bawah ke atas)


2. Konversi Bilangan Desimal ke Oktal

Konversi bilangan desimal ke Oktal adalah dengan cara membagi bilangan desimal dengan 8 (basis bilangan oktal) dan menyimpan sisa hasil bagi dari setiap pembagian sebagai bit-bit bilangan oktal. Nilai konversinya adalah urutan sisa hasil bagi dari yang paling akhir.

Contoh :

1402(10) = … (8)

·      1402/8 = 175 sisa 2

·      175/8 = 21 sisa 7

·      21/8 = 2 sisa 5

·      2/8 = 0 sisa 2

Maka hasil konversinya = 2572 (ditulis dari bawah)


3. Konversi Bilangan Biner ke Desimal

konversi bilangan biner ke desimal adalah dengan cara mengalikan satu persatu bilangan dengan 2 (basis bilangan biner) pangkat 0, pangkat 1 dan seterusnya sesuai dengan banyaknya bilangan biner yang akan di konversi dan perhitungannya dimulai dari bilangan biner yang paling kanan.

Contoh :

         00011(2) = … (10)

                       = (1x20) + (1x21) + (0x22) + (0x23) + (0x24)

                       = 1 + 2 + 0 + 0 + 0

                       = 3

Hasil Konversi : 3


4. Konversi Bilangan Biner ke Oktal

konversi bilangan biner ke oktal yakni dengan mengelompokan bilangan biner menjadi 3 kelompok dimulai dari bilangan biner yang paling kanan. Setelah dikelompokan barulah kita dapat mengkonversi menjadi bilangan Oktal.

Contoh :

          11001101(2) =  … (8)   ===>  011  001  101

    011 = 3  (lihat tabel konversi di atas)

    001 = 1

    101 = 5

Hasil Konversi : 315 (ditulis dari atas ke bawah)


5. Konversi Bilangan Oktal ke Desimal

konversi bilangan oktal ke desimal adalah dengan cara mengalikan satu persatu bilangan dengan 8 (basis bilangan oktal) dengan pangkat 0, 1 dan seterusnya dimulai dari bilangan oktal yang paling kanan. Kemudian hasil dari semua pengalian dijumlahkan.

Contoh :

          62(8) = ... (10)

·          2x80 = 2

·         6x81 = 48

2+48 = 50

Hasil Konversi = 50


6Konversi Bilangan Oktal ke Biner

konversi bilangan oktal ke biner adalah dengan memecah terlebih dahulu bilangan oktal kedalam satuan bilangan, kemudian masing-masing bilangan diubah kedalam bentuk 3 bit bilangan biner, dengan cara membagi setiap satuan bilangan tersebut dengan 2 (basis bilangan biner). Jika hasil konversi hanya menghasilkan 2 digit bilangan biner, maka harus ditambahkan 0 di sebelah kirinya, supaya bilangan binernya menjadi 3 digit (bit).

Contoh :

145(8) = ... (2)

          1 = 001 (lihat tabel konversi)

          4 = 100

          5 = 101

Hasil Konversi = 001100101 (ditulis dari atas ke bawah)




Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js