DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MENERAPKAN BUDAYA POSITIF

 

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

MENERAPKAN BUDAYA POSITIF

 

Berikut langkah-langkah yang penulis lakukan dalam menyusun kesepakatan kelas

Adapun yang melatarbelakangi pembuatan kesepakatan kelas ini yaitu adanya kekosongan kegiatan siswa setelah selesai melaksanakan pembagian raport akhir tahun. Penulis pun berinisiatif untuk mengajak siswa berdiskusi terkait kegiatan apa yang mau mereka lakukan untuk mengisi waktu luang tersebut.

Diawali dengan mengirimkan pesan kepada siswa melalui grup whatsapp untuk menanyakan melakukan kegiatan apa untuk mengisi waktu luang sebelum memasuki tahun pelajaran baru. Kemudian anak-anak menuliskan usulan mereka melalui google form. Setelah anak-anak menyampaikan usulan mereka pada google form, penulis mulai merekap kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh siswa. Kami pun akhirnya menyimpulkan bersama bahwa kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuat sebuah kesimpulan tentang kemampuan koneksi internet di masing-masing lokasi peserta didik. 

Tindakan yang dilakukan oleh guru

Setelah bentuk kegiatannya pasti, hal selanjutnya yang perlu disepakati yaitu terkait pelaksanaan kegiatannya, apakah secara individu atau kelompok? Waktu pelaksanaan kegiatannya sampai nanti masuk tahun pelajaran baru.

Percakapan Guru terhadap murid dalam kesepakatan kelas

Berikut bunyi kesepakatannya :

Pertama, Kegiatan yang dilakukan yaitu membuat sebuah kesimpulan tentang kemampuan koneksi internet di masing-masing lokasi peserta didikKedua, Kegiatan dapat dilakukan secara individu atau kelompok dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ketiga, Bukti kegiatan dikumpulkan dalam bentuk foto. Keempat, Pengumpulan hasil kegiatan kelas dikumpulkan saat memasuki tahun pelajaran baru.

Respon Murid dalam kesepakatan kelas

Selanjutnya kesepakatan kelas dibuat dalam bentuk poster dan ditandatangani oleh siswa serta guru. Poster dibagikan kepada siswa melalui grup whatsapp untuk disimpan.

Tantangan

Tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan kesepakatan ini yaitu masih adanya siswa yang acuh terhadap hasil kesepakatan yang telah dibuat. Karena guru tidak mengetahui apakah siswa tersebut sudah melaksanakan kegiatan atau belum. Guru pun terus mengingatkan mereka yang belum melaksanakan hasil kesepakatan kelas melalui grup whatsapp.


Dokumentasi proses penyusunan kesepakatan kelas

 


Pengiriman link google form

 

 

Kesepakatan berhasil dibuat dan disepakati secara bersama-sama 

Share:

AKSI NYATA 1.3.a.10.

Menciptakan Karakter Peduli Lingkungan Pada Program Pengelolaan Sampah Sekolah

 

Surya Adi Nafitri, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Malang

SMP Dharma Wanita 09 Kromengan

 

A.       Latar belakang

Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan manusia yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai] dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan. Alam tidak mengenal sampah, yang ada hanyalah daur materi dan energi. Hanya manusia yang menyampah mengakibatkan munculnya sampah.

Segala macam organisme yang ada di alam ini selalu menghasilkan bahan buangan, karena tidak ada proses konversi yang memiliki efisiensi 100%. Sebagian besar bahan buangan yang dihasilkan oleh organisme yang ada di alam ini bersifat organik memiliki ikatan CHO, bagian tubuh makhluk hidup. Sampah yang berasal dari aktivitas manusia yang dapat bersifat organik maupun anorganik. Contoh sampah organik adalah: sisa-sisa bahan makanan, kertas, kayu dan bambu. Sedangkan sampah anorganik hasil dari proses pabrik misalnya: plastik, logam, gelas, dan karet.

Ditinjau dari kepentingan kelestarian lingkungan, sampah yang bersifat organik tidak begitu bermasalah karena dengan mudah dapat dirombak oleh mikrobia menjadi bahan yang mudah menyatu kembali dengan alam. Sebaliknya sampah anorganik sukar terombak dan menjadi bahan pencemar.

Timbunan sampah menjadi sarang bagi vektor dan penyakit. Tikus, lalat, nyamuk akan berkembang biak dengan pesat. Ruang yang ada dicelah-celah sampah dapat berupa ban, kaleng bekas, kardus, dan lain-lain merupakan hunian yang ideal bagi tikus. Lalat pada umumnya berkembangbiak pada sampah organik, terutama pada sampah yang banyak mengandung protein, seperti sisa makanan.  Suasana yang lembab dan hangat sangat cocok untuk habitat nyamuk. Sampah organik menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi mereka.

 

Karakteristik sampah di Sekolah

Sekolah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang dapat menjadi penghasil sampah terbesar selain pasar, rumah tangga, industri dan perkantoran. Secara umum sampah dapat dipisahkan menjadi : Sampah organik/mudah busuk  berasal dari: sisa makanan, sisa sayuran dan kulit buah-buahan, sisa ikan dan daging, sampah kebun (rumput, daun dan ranting). Sampah anorganik/tidak mudah busuk berupa : kertas, kayu, kain, kaca, logam, plastik , karet dan tanah. Sampah yang dihasilkan sekolah kebanyakan adalah jenis sampah kering dan hanya sedikit sampah basah. Sampah kering yang dihasilkan kebanyakan berupa kertas, plastik dan sedikit logam. Sedangkan sampah basah berasal dari guguran daun pohon, sisa makanan dan daun pisang pembungkus makanan.

 

B.       Deskripsi Aksi Nyata Yang Dilakukan

Di lingkungan sekolah, pengelolaan sampah membutuhkan perhatian serius. Dengan komposisi sebagian besar penghuninya adalah anak-anak (warga belajar) tidak menutup kemungkinan pengelolaannya pun belum optimal. Namun juga bisa dipakai sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswinya. Salah satu parameter sekolah yang baik adalah berwawasan lingkungan.

Dari penjabaran diatas saya mempunyai visi ingin mengembangkan karakter peserta didik dalam mengolah sampah menjadi barang yang bernilai. Yang pertama saya menyampaikan visi kepada Kepala Sekolah. Dalam hal ini juga melibatkan pemangku kepentingan seperti guru, staf dan juga warga sekitar. Dalam pengelolaan sampah di sekolah, para peserta didik dilibatkan secara aktif. Hal ini dapat dilakukan dengan pembentukan regu-regu yang bertugas secara terjadwal. Kegiatan pameran dan kompetisi berkala dapat dilakukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah juga bisa melalui 4R (REDUCE, REUSE, REPLACE, RECYCLE). Sehingga muncul kesadaran baru bahwa “Sampah bukan masalah, tetapi peluang.

Adapun alasan mengapa saya mengambil aksi ini adalah mendorong timbulnya kesadaran dalam pengelolaan sampah demi menjaga kelestarian lingkungan sekolah dan warga sekitar.

 

C.       Hasil dari aksi nyata yang dilakukan

Dengan pelaksanaan program pengelolaan sampah masing-masing pemangku kepentingan sangat mendorong demi terciptanya lingkungan bersih. Peserta didik juga memberikan keaktifan yang ditunjukkan dengan pengelolaan sampah sesuai dengan karakter yang ada. Komunikasi dan kolaboratif antar pemangku kepentingan dan peserta didik dilakukan untuk memantau dan menuntun dalam pengelolaan sampah. Guru telah mengimplementasikan visi guru penggerak diantaranya kreatif dan inovatif, menuntun kemandirian peserta didik, membangun komunitas aktif sesama guru untuk berbagi praktik baik.

 

D.       Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)

Keberhasilan yang dilakukan dengan tindakan memberikan peran masing-masing peserta didik dalam pengelolahan sampah memberikan dampak positif. Murid yang selama ini membuang sampah tidak sesuai dengan 4R (REDUCE, REUSE, REPLACE, RECYCLE) akhirnya bisa berperan aktif dalam pengelolahan sampah. Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih dalam menggunakan sampah bekas menjadi barang bernilai yang menarik dan bisa berkreasi. Peserta didik juga saling berbagi dalam mengolah sampah menjadi barang bernilai dari temannya yang lain. Kegagalan dalam aksi nyata ini karena perilaku menjaga kebersihan masih sangat kurang, sehingga perlu waktu untuk memberi pemahaman pengelolaan sampah yang diberikan kepada peserta didik.

 

E.        Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Kedepan maka saya akan lebih intens lagi melakukan komunikasi terhadap peserta didik mengenai pengelolaan sampah yang mereka lakukan. Saya juga akan melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan agar pengelolaan samah lebih maksimal. Dan juga memberikan masukan-masukan kepada peserta didik tentang pendaurulangan sampah yang lebih mempunyai nilai guna.

Saya juga akan menjadikan diri saya sebagai dalam kedisiplinan, kemandirian dalam belajar dan kerja keras, memiliki integritas yang baik. Saya juga akan membangun komunikasi yang aktif untuk berbagi praktik baik dengan sesama guru dan pimpinan sekolah. Saya juga membangun komunikasi aktif dengan warga sekitar agar menghasilkan kolaborasi baik  dalam memberikan pemahaman tentang pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan nilai guna.

 

 

SALAM GURU PENGGERAK

 

MERDEKA BELAJAR


Share:

1.3 Koneksi Antar Materi - Visi Guru Penggerak


    Surya Adi Nafitri, S.Pd

    CGP Angkatan 2 Kab. Malang

    SMP Dharma Wanita 09 Kromengan






Share:

REFLEKSI INDIVIDU 4P

Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang terjadi?

Selama ini, saya menganggap suatu kelemahan atau kekurangan itu sebagai suatu hambatan atau masalah. Namun ternyata anggapan itu salah, tergantung dari mana kita memandang kelemahan itu. Bisa jadi ketika kita memandang suatu kelemahan dari sudut pandang yang berbeda, maka akan menjadi sebuah kekuatan yang bisa kita pakai sebagai dasar untuk melakukan suatu perubahan yang ekstrim atau tidak biasanya. Misalnya di sekolah saya muridnya itu sedikit, hal ini akan menjadi masalah ketika kita melihatnya dari segi pendapatan dana BOS nya. Tetapi, ketika kita melihatnya dari segi efektivitas pengelolaan pembelajaran di kelas, maka murid yang sedikit ini menjadi kekuatan dan keuntungan untuk kita sebagai guru agar bisa mengelola pembelajaran dengan baik. Hal tersebut di atas sejalan dengan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Di sekolah, pendekatan IA bisa dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal baik yang telah ada, pertahankan sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak-adaan menjadi tidak relevan kemudian selaraskan hal positif atau kekuatan tersebut ke dalam visi sekolah dan visi setiap individu komunitas sekolah. Tahapan implementasi IA ini kita kenal dengan istilah BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi).


Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran

Perasaan yang muncul pada diri saya saat proses pembelajaran ini adalah yang pertama sedikit kaget karena ternyata kelemahan bisa kita rubah menjadi kekuatan. Sebelumnya belum terfikirkan akan hal ini, setelah mengetahui dan mempelajari manajemen perubahan menggunakan pendekatan IA dengan tahapan BAGJA nya, saya menjadi termotivasi untuk membuat kelemahan menjadi kekuatan.


Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan

  • Mengetahui kelemahan bisa kita rubah menjadi sebuah kekuatan
  • Kolabaroasi sangat penting untuk melakukan sebuah perubahan
  • Mengetahui konsep IA sebagai manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan
  • Mengetahui tahapan implementasi IA yang kenal dengan istilah BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi).
  • Hal-hal positif yang sudah ada di sekolah harus kita selaraskan dengan visi sekolah dan visi setiap individu sekolah.


Perubahan (Future): Jika saya ingin membuat perubahan dengan konsep inkuiri apresiatif: apa saja yang perlu saya pelajari lebih lanjut? apa saja strategi yang dilakukan untuk melaksanakan perubahan?

  1. Yang perlu saya pelajari adalah bagaimana cara menganalisis kekuatan yang sudah ada, karena untuk menemukan sebuah kekuatan itu kadang susah dan belum disadari bahwa itu adalah kekuatan.

  2. Strategi yang harus dilakukan adalah mengenali kekuatan diri, kekuatan di kelas dan di sekolah. membangun kolaborasi, menjabarkan rencana perubahan dan melakukan aksi perubahan tersebut. Setelah itu melakukan refleksi dan evaluasi.



Share:
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js